Dua Sisi Mata Uang Lonjakan Harga Komoditas, APBN Dipaksa Lentur
Selasa, 19 Juli 2022 - 18:45 WIB
loading...
Kenaikan harga komoditas ini seperti dua sisi mata uang. Pada akhirnya, kebijakan APBN dapat diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, daya beli, dan kesehatan masyarakat. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pandemi COVID-19 mulai mereda dan tren pemulihan ekonomi baik di level domestik maupun global sudah tampak. Untuk ekonomi Indonesia dapat dikatakan positif, yaitu tumbuh 5,01% pada triwulan I 2022 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun pada saat bersamaan dunia dihadapkan dengan tantangan berat, yaitu konflik geopolitik yang memanas. Hal ini mengakibatkan rantai pasok produksi terganggu akibat pandemi, akhirnya berdampak pada harga komoditas dan inflasi yang ikut naik.
Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Ancaman Nyata Resesi Akibat Tekanan Global
Kenaikan harga komoditas ini seperti dua sisi mata uang. Analis Kebijakan Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Syarif Mulyani menjelaskan, peningkatan harga komoditas memberikan pengaruh pada peningkatan penerimaan negara , tetapi di sisi lain menekan harga energi dan pangan.
“Memang pada satu sisi kondisi saat ini memberikan 'berkah' pada kinerja penerimaan yang cukup baik. Namun, di sisi lain, ternyata ada risiko bahkan sudah merupakan kebutuhan untuk memitigasi dampak-dampak lainnya,” tutur Syarif di Jakarta, Selasa (19/7/2022).
Namun pada saat bersamaan dunia dihadapkan dengan tantangan berat, yaitu konflik geopolitik yang memanas. Hal ini mengakibatkan rantai pasok produksi terganggu akibat pandemi, akhirnya berdampak pada harga komoditas dan inflasi yang ikut naik.
Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Ancaman Nyata Resesi Akibat Tekanan Global
Kenaikan harga komoditas ini seperti dua sisi mata uang. Analis Kebijakan Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Syarif Mulyani menjelaskan, peningkatan harga komoditas memberikan pengaruh pada peningkatan penerimaan negara , tetapi di sisi lain menekan harga energi dan pangan.
“Memang pada satu sisi kondisi saat ini memberikan 'berkah' pada kinerja penerimaan yang cukup baik. Namun, di sisi lain, ternyata ada risiko bahkan sudah merupakan kebutuhan untuk memitigasi dampak-dampak lainnya,” tutur Syarif di Jakarta, Selasa (19/7/2022).
Lihat Juga :