Gas Rusia Distop, Eropa Pakai Cara Paling Kotor untuk Menghasilkan Energi
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 09:57 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 3 Negara yang Bisa Menggantikan Suplai Gas Rusia ke Eropa
Rencana ini akan melibatkan tiga pembangkit listrik berbahan bakar lignit RWE yang dibawa kembali ke jaringan listrik mulai awal Oktober. Lignit dikenal sebagai batu bara coklat dan dianggap sangat buruk bagi lingkungan.
Menanggapi hal itu RWE menerangkan, "tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan hingga hari ini." Ia menambahkan, bahwa RWE Power — yang berfokus pada lignit dan pembangkit listrik tenaga nuklir — mengekstraksi jutaan metrik ton batubara setiap tahun.
Semua hal di atas merupakan rintangan bagi bisnis yang berkantor pusat di Essen, yang menargetkan ingin menjadi netral karbon pada tahun 2040.
Sebagai bahan bakar fosil, batu bara memiliki efek substansial pada lingkungan dan Greenpeace menggambarkannya sebagai "cara paling kotor dan paling berpolusi untuk menghasilkan energi." Pembakaran batu bara menghasilkan banyak emisi yang berpotensi berbahaya, termasuk karbon dioksida, sulfur dioksida, partikulat, dan nitrogen oksida.
"Apa yang saat ini terjadi mudah-mudahan hanya jangka pendek, di mana kita perlu menemukan keamanan pasokan," kata Müller dari RWE.
Rencana ini akan melibatkan tiga pembangkit listrik berbahan bakar lignit RWE yang dibawa kembali ke jaringan listrik mulai awal Oktober. Lignit dikenal sebagai batu bara coklat dan dianggap sangat buruk bagi lingkungan.
Menanggapi hal itu RWE menerangkan, "tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan hingga hari ini." Ia menambahkan, bahwa RWE Power — yang berfokus pada lignit dan pembangkit listrik tenaga nuklir — mengekstraksi jutaan metrik ton batubara setiap tahun.
Semua hal di atas merupakan rintangan bagi bisnis yang berkantor pusat di Essen, yang menargetkan ingin menjadi netral karbon pada tahun 2040.
Sebagai bahan bakar fosil, batu bara memiliki efek substansial pada lingkungan dan Greenpeace menggambarkannya sebagai "cara paling kotor dan paling berpolusi untuk menghasilkan energi." Pembakaran batu bara menghasilkan banyak emisi yang berpotensi berbahaya, termasuk karbon dioksida, sulfur dioksida, partikulat, dan nitrogen oksida.
"Apa yang saat ini terjadi mudah-mudahan hanya jangka pendek, di mana kita perlu menemukan keamanan pasokan," kata Müller dari RWE.
Lihat Juga :