alexametrics

Starbucks Ikuti Jejak Unilever dan Coca Cola Setop Pasang Iklan di Media Sosial

loading...
Starbucks Ikuti Jejak Unilever dan Coca Cola Setop Pasang Iklan di Media Sosial
Starbucks telah mengumumkan akan menangguhkan atau menghentikan sementara pemasangan iklan di beberapa platform media sosial menyusul merebaknya konten kebencian dan rasisme di platform media sosial. Foto/Dok
A+ A-
CHICAGO - Starbucks telah mengumumkan akan menangguhkan atau menghentikan sementara pemasangan iklan di beberapa platform media sosial menyusul merebaknya konten kebencian dan rasisme di platform media sosial, menjelang Pemilu Presiden Amerika Serikat (AS). Raksasa peritel kopi tersebut bergabung bersama dengan brand global lain termasuk Coca-Cola, Diageo dan Unilever yang juga melakukan hal serupa.

Seorang juru bicara Starbucks mengatakan kepada BBC, 'jeda' pemasangan iklan tidak termasuk YouTube, yang dimiliki oleh Google. "Kami percaya membangun masyarakat harus bersama-sama, baik secara pribadi dan online," bunyi pernyataan Starbucks.

Lebih lanjut Ia mengatakan, "membuka diskusi secara internal dan dengan mitra media dan organisasi hak sipil lainnya untuk menghentikan konten kebencian dan rasisme,". Namun hal itu akan terus terjadi apabila terus ada postingan.

(Baca Juga: Wall Street Menguat Berkat Kenaikan Saham Emiten Teknologi)

Pernyataan Starbuck ini muncul setelah Coca-Cola menyerukan "lebih besar akuntabilitas" dari perusahaan media sosial. Chairman Coca-Cola, James Quincey, mengatakan perusahaan memutuskan menghentikan pemasangan iklan di medsos selama 30 hari. Hal itu dilakukan salah satunya sebagai bentuk penolakan terhadap perilaku rasisme di medsos.

Dalam jeda waktu tersebut, Coca-Cola menyatakan akan mengevaluasi kebijakan periklanan untuk menentukan apakah perlu revisi kebijakan. “Kami juga mengharapkan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari mitra media sosial kami,” ujar Quincey.

Langkah ini menyusul kontroversi atas pendekatan yang dilakukan Facebook yang seakan lepas tangan atas postingan dalam platformnya. Berbeda dengan Twitter, Facebook tidak melabeli konten ujaran kebencian dan hoaks yang ada di platform mereka.

Aksi boikot ini sebagai dampak dari penolakan Facebook untuk menghapus unggahan Presiden Donald Trump. Pada postingannya Presiden AS itu mengancam akan menerapkan tindakan keras kepada para pengunjuk rasa.

Menanggapi kritik tersebut, Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa pihaknya akan melabeli semua posting-an terkait Pemilu AS dengan tautan yang mendorong pengguna untuk melihat pusat informasi pemilu. Facebook juga akan memperluas definisi tentang ujaran kebencian yang dilarang, serta menambahkan klausul bahwa tidak akan ada iklan yang ditampilkan dalam posting-an yang diberi label berbahaya oleh Facebook.

"Tidak ada pengecualian untuk politisi dalam kebijakan apa pun yang saya umumkan di sini hari ini," kata Zuckerberg.

Starbucks mengatakan langkah menghentikan sementara iklan pada beberapa platform sosial, bukan berarti bergabung bersama dalam kampanye #StopHateForProfit. Lebih dari 150 perusahaan telah setop iklan untuk mendukung #StopHateforProfit.

Coca-Cola juga mengatakan kepada CNBC suspensi iklan tidak berarti bergabung dengan kampanye, meskipun terdaftar sebagai "pebisnis yang berpartisipasi ". Kampanye telah mendesak Zuckerberg untuk mengambil langkah lebih lanjut, termasuk membangun hak sipil permanen 'infrastruktur' di dalam Facebook.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top