Dinikmati Orang Kaya, Arahkan Subsidi BBM ke Pendidikan dan Kesehatan
Kamis, 01 September 2022 - 22:05 WIB
loading...
Ilustrasi SPBU. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pengamat ekonomi Faisal Basri mengungkapkan bahan bakar minyak (BBM) yang diperuntukkan bagi orang tidak mampu sebagian besar dinikmati orang kaya.
Mayoritas pengguna BBM bersubsidi sebesar 98,7% merupakan mobil pribadi, taksi online 0,6%, taksi plat kuning 0,3%, dan angkot 0,4%. Adapun 10% termiskin menikmati subsidi 3,1% saja sedangkan 20% termiskin 4,4% dan terus begitu.
"Yang terkaya paling banyak menikmati, yakni 29,1%," ujar Faisal saat diskusi virtual bertajuk Telaah Kebijakaan Penyesuaian Harga BBM untuk Subsidi Tepat Sasaran, di Jakarta, Kamis (1/9/2022).
Baca Juga: Urusan BBM, Faisal Basri Sarankan Indonesia Belajar dari Timor Leste dan Norwegia
Menurut dia upaya mengurangi subsidi BBM harus dilakukan dengan konsisten, karena ongkos sosial, fiskal, dan lingkungannya terlalu mahal untuk terus menerus ditumpuk. Di samping itu cadangan minyak kian menipis, sementara konsumsi BBM semakin meningkat.
Harga BBM yang murah karena subsidi membuat pola konsumsi masyarakat, terutama yang mampu makin tak terkendali. Hal itu menjadikan Indonesia harus melakukan impor minyak dari luar negeri, yang harganya saat ini melonjak naik, salah satunya akibat dari perang di Eropa.
"Cadangan makin tipis, tapi kita membakar energi, membakar BBM, makin lama makin banyak. Akibatnya apa, kita harus menutup selisih ini dengan cara mengimpor. Sekarang kira-kira impornya mendekati 800 ribu barel per hari," ungkap Faisal.
Mayoritas pengguna BBM bersubsidi sebesar 98,7% merupakan mobil pribadi, taksi online 0,6%, taksi plat kuning 0,3%, dan angkot 0,4%. Adapun 10% termiskin menikmati subsidi 3,1% saja sedangkan 20% termiskin 4,4% dan terus begitu.
"Yang terkaya paling banyak menikmati, yakni 29,1%," ujar Faisal saat diskusi virtual bertajuk Telaah Kebijakaan Penyesuaian Harga BBM untuk Subsidi Tepat Sasaran, di Jakarta, Kamis (1/9/2022).
Baca Juga: Urusan BBM, Faisal Basri Sarankan Indonesia Belajar dari Timor Leste dan Norwegia
Menurut dia upaya mengurangi subsidi BBM harus dilakukan dengan konsisten, karena ongkos sosial, fiskal, dan lingkungannya terlalu mahal untuk terus menerus ditumpuk. Di samping itu cadangan minyak kian menipis, sementara konsumsi BBM semakin meningkat.
Harga BBM yang murah karena subsidi membuat pola konsumsi masyarakat, terutama yang mampu makin tak terkendali. Hal itu menjadikan Indonesia harus melakukan impor minyak dari luar negeri, yang harganya saat ini melonjak naik, salah satunya akibat dari perang di Eropa.
"Cadangan makin tipis, tapi kita membakar energi, membakar BBM, makin lama makin banyak. Akibatnya apa, kita harus menutup selisih ini dengan cara mengimpor. Sekarang kira-kira impornya mendekati 800 ribu barel per hari," ungkap Faisal.
Lihat Juga :