3 Direktur Utama Wanita di Pertamina, Nomor 3 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia

Senin, 05 September 2022 - 09:47 WIB
loading...
3 Direktur Utama Wanita di Pertamina, Nomor 3 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Selama 65 tahun Pertamina beroperasi, terdapat tiga wanita yang menduduki jabatan Direktur Utama di perusahaan energi milik negara itu.

PT Pertamina (Persero) merupakan BUMN yang mengelola bisnis energi terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Bermula dari mengelola ladang minyak di Sumatera, perusahaan yang didirikan pada 10 Desember 1957 itu dalam perkembangannya memiliki banyak unit bisnis dan beragam usaha.

Saat ini Pertamina memiliki 13 anak usaha, salah satunya bergerak di bidang penjualan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) .

Selain itu juga ada yang bergerak di bidang eksplorasi migas, petrokimia, ketenagalistrikan, energi terbarukan, logistik, shipping, asuransi, hingga bisnis jasa lainnya seperti rumah sakit, hotel dan maskapai penerbangan.

Baca juga: Pastikan Stok BBM Aman, Dirut Pertamina Pantau Langsung Lewat Command Center

Dalam menjalankan roda bisnis perusahaan, Pertamina memiliki enam orang anggota direksi, termasuk Direktur Utama.

Selama ini industri pertambangan dan energi identik dengan maskulinitas sehingga dominasi pria di industri tersebut begitu nyata. Namun, hal itu terpatahkan seiring munculnya sosok wanita yang menduduki pucuk pimpinan Pertamina.

Tercatat hingga saat ini setidaknya ada 17 orang yang pernah menjabat Dirut Pertamina, 3 di antaranya adalah wanita.

Berikut ini 3 profil Direktur Utama wanita di Pertamina, dikutip SINDOnews dari laman resmi dan Laporan Keuangan Tahunan (Annual Report/AR) Pertamina:

1. Karen Agustiawan
Karen Agustiawan merupakan Direktur Utama wanita pertama dalam sejarah Pertamina. Dia menahkodai perseroan negara itu sejak 2009 hingga 2014.

Mengutip AR 2013, Karen merupakan lulusan Teknik Fisika ITB tahun 1983. Wanita kelahiran 19 Oktober 1958 itu mengawali karir antara lain sebagai Business Development Manager (2000-2002) di Landmark Concurrent Solusi Indonesia, dan Halliburton Indonesia sebagai Commercial Manager tahun 2002-2006.

Karir di Pertamina dimulai sebagai Staf Ahli Direktur Utama Pertamina untuk Bisnis Hulu (2006- 2008) dan menjabat sebagai Direktur Hulu sejak 5 Maret 2008.

Dia menjadi Direktur Utama Pertamina pada 5 Februari 2009 dan merangkap sebagai Direktur Hulu hingga 19 Februari 2010. Pada 2011, Karen sempat masuk dalam daftar 50 Power Businesswomen in Asia versi majalah Forbes.

Pada 5 Maret 2013, wanita bernama lengkap Karen Galaila Agustiawan kembali dipercaya kembali sebagai Direktur Utama sejak 5 Maret 2013.

3 Direktur Utama Wanita di Pertamina, Nomor 3 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia


Selama menjabat Dirut, kinerja Karen sejatinya tampak kinclong. Beberapa pencapaian antara lain terkait pembelian aset milik Conoco Phillips di Aljazair dan pembelian saham ladang migas milik Exxon Mobile di Irak.

Selain itu, wanita kelahiran Bandung juga sukses membawa Pertamina kembali masuk dalam jajaran 500 perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia atau Fortune Global 500.

Karen mengundurkan diri dari Pertamina per 1 Oktober 2014. Setelah itu, dia sempat menjadi guru besar di Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat.

Sayangnya, jejak karir Karen yang cemerlang di Pertamina tercoreng kasus korupsi yang diduga melibatkan dirinya.

Pada Maret 2018, Karen menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi investasi Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang ditaksir merugikan negara Rp568 miliar.

Pada 10 Juni 2019, Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dan denda Rp1 miliar. Atas vonis tersebut, Karen menyatakan banding.

Selama 1,5 tahun Karen merasakan dinginnya jeruji besi sebelum akhirnya Mahkamah Agung (MA) memutus bebas pada 9 Maret 2020.

MA melepaskan Karen dari segala tuntutan hukum. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menyatakan apa yang dilakukan Karen merupakan bussines judgement rule dan perbuatan itu bukan merupakan tindak pidana.

Baca juga: Profil Karen Agustiawan: Mantan Dirut Pertamina Wanita Pertama dan Paling Lama Menjabat

2. Yenni Andayani

Yenni Andayani bukan orang baru di Pertamina. Wanita kelahiran 24 Maret 1965 ini telah berkecimpung cukup lama di Pertamina.

Perjalanan kariernya di Pertamina dimulai sejak 1991 dan pernah dipercaya untuk memegang posisi sebagai Direktur Utama PT Nusantara Gas Company Services di Osaka, Jepang.

Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Donggi-Senoro LNG (2009-2012) dan Senior Vice President Gas and Power, Direktorat Gas PT Pertamina (Persero) (2013-2014).

3 Direktur Utama Wanita di Pertamina, Nomor 3 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia


Pada November 2014, Lulusan Sarjana Hukum Universitas Parahyangan tahun 1988 itu kemudian diangkat sebagai Direktur Energi Baru Terbarukan (EBT) Pertamina.

Yenni lantas dipercaya menduduki pucuk pimpinan Pertamina pada Februari 2017. Saat itu dia ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Sementara atau Plt Direktur Utama menggantikan Dwi Soetjipto yang dicopot dari jabatannya.

Yenni menjabat Plt Dirut sejak 3 Februari dan berakhir pada 16 Maret 2017 seiring pengangkatan Dirut baru Pertamina yaitu Elia Massa Manik.



3. Nicke Widyawati

Nicke Widyawati menjabat Direktur Utama Pertamina sejak 2018 hingga saat ini. Wanita kelahiran Tasikmalaya, 25 Desember 1967 itu diangkat sebagai Dirut berdasarkan SK Menteri BUMN selaku RUPS PT Pertamina (Persero) No. SK-97/MBU/04/2018 tanggal 20 April 2018.

Mengutip AR 2021, Nicke merupakan alumnus S1 Teknik Industri ITB pada 1991, dan merampungkan pendidikan S2 Hukum Bisnis di Universitas Padjadjaran pada 2009.

Sepak terjang wanita berdarah sunda itu di BUMN antara lain di PT Rekayasa Industri dan PT Mega Eltra. Selain itu, dia menjejakkan kaki di PLN sebagai Director of Corporate Planning and Renewable Energy (2016-2017) dan Director of Strategic Sourcing and Renewable Energy di PLN (2017).

Kariernya di Pertamina dimulai pada 2017, di mana Nicke menempati posisi Director of Human Capital/Acting President Director & CEO (2017-2018).

Bersama Pertamina, Nicke terus menunjukkan komitmennya mendorong transisi energi Indonesia dengan mencanangkan portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT).

Selama menjabat Dirut, sejumlah penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia atau Most Powerful Women International 2020 dan 2021 dari Fortune, serta Top CEO 2020 dari The Aramco Trading.

Tahun lalu, wanita berhijab itu juga meraih penghargaan Asia-Pacific Women Empowerment Principles (WEPs) 2021 untuk kategori Leadership Commitment.

Nicke dinilai berperan penting dalam mewujudkan komitmen kuat perusahaan untuk mendorong kebijakan, peraturan serta praktik yang bertujuan memajukan kesetaraan gender di tempat kerja.

(MG/Vadma Gempita)
(ind)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2475 seconds (11.252#12.26)