Peluang Media Mainstream dari Boikot Iklan di Media Sosial
Kamis, 02 Juli 2020 - 08:31 WIB
loading...
A
A
A
"Media mainstream punya keunggulan untuk menyampaikan konten yang positif dan menginspirasi. Terutama di tengah masyarakat jenuh dengan konten yang berhubungan dengan Covid-19. Namun, harus ada penyampaian yang lebih kreatif, seperti webinar ataupun aktivitas berbasis online lainnya," ujar Agung di Jakarta kemarin.
Lebih lanjut, dia juga mengingatkan media mainstream agar memperhatikan kebutuhan brand yang berbeda seusai sektor. Misalnya saat ini brand sektor asuransi yang lebih agresif dibandingkan bisnis lainnya. Karena itu, media mainstream harus terus menjaga relasi hingga nanti pertumbuhannya kembali normal. "Bisnis lagi sepi tentu ikut menekan kemampuan iklan mereka. Tapi relasi harus terus dijaga karena saat situasi pulih tren iklan juga ikut berlari kencang," jelasnya. (Baca juga: Putin Desak Turki dan Iran Dorong Dialog di Suriah)
Dia menyarankan, kunci yang berkembang saat ini adalah Adopt, Adapt, dan Adept. Istilah Adopt berarti mengadopsi lingkungan baru yang saat ini disebut new normal. Lalu, Adapt artinya beradaptasi menemukan strategi dan jalur baru setelah mengadopsi lingkungan yang baru. Fase akhir adalah Adept, yang berarti sukses menguasai dan bahkan mampu berselancar di atas ombak kondisi new normal tersebut.
"Banyak tren yang belum lama viral, lalu sekarang hilang. Misalnya acara midnight sale atau buy one get one. Jadi, kita harus lebih kreatif membaca kebutuhan setiap sektor," katanya.
Research Director Iconomics Alex Mulya mengatakan, media mainstream harus lebih kreatif karena banyak keterbatasan, khususnya anggaran. Saat ini menurutnya masyarakat sudah ingin melihat konten inovasi untuk bisa meraih perhatian publik. Masyarakat mulai kurang antusias dengan hanya kesedihan seputar disaster relief, serta tidak hanya iklan dan marketing penyerahan CSR sehingga harus semakin kreatif.
Lebih lanjut, dia juga mengingatkan media mainstream agar memperhatikan kebutuhan brand yang berbeda seusai sektor. Misalnya saat ini brand sektor asuransi yang lebih agresif dibandingkan bisnis lainnya. Karena itu, media mainstream harus terus menjaga relasi hingga nanti pertumbuhannya kembali normal. "Bisnis lagi sepi tentu ikut menekan kemampuan iklan mereka. Tapi relasi harus terus dijaga karena saat situasi pulih tren iklan juga ikut berlari kencang," jelasnya. (Baca juga: Putin Desak Turki dan Iran Dorong Dialog di Suriah)
Dia menyarankan, kunci yang berkembang saat ini adalah Adopt, Adapt, dan Adept. Istilah Adopt berarti mengadopsi lingkungan baru yang saat ini disebut new normal. Lalu, Adapt artinya beradaptasi menemukan strategi dan jalur baru setelah mengadopsi lingkungan yang baru. Fase akhir adalah Adept, yang berarti sukses menguasai dan bahkan mampu berselancar di atas ombak kondisi new normal tersebut.
"Banyak tren yang belum lama viral, lalu sekarang hilang. Misalnya acara midnight sale atau buy one get one. Jadi, kita harus lebih kreatif membaca kebutuhan setiap sektor," katanya.
Research Director Iconomics Alex Mulya mengatakan, media mainstream harus lebih kreatif karena banyak keterbatasan, khususnya anggaran. Saat ini menurutnya masyarakat sudah ingin melihat konten inovasi untuk bisa meraih perhatian publik. Masyarakat mulai kurang antusias dengan hanya kesedihan seputar disaster relief, serta tidak hanya iklan dan marketing penyerahan CSR sehingga harus semakin kreatif.
Lihat Juga :