alexametrics

Peluang Media Mainstream dari Boikot Iklan di Media Sosial

loading...
Peluang Media Mainstream dari Boikot Iklan di Media Sosial
Foto: dok/Reuters
A+ A-
JAKARTA - Dalam sepekan terakhir, perusahaan-perusahaan besar menghentikan iklannya di media sosial (medsos) seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Ini merupakan peluang bagi media mainstream untuk mengambil keuntungan dari boikot iklan tersebut.

Hingga pekan ini sudah lebih dari sepuluh perusahaan besar yang menyatakan tidak akan beriklan di media sosial terutama Facebook. Adapun perusahaan besar tersebut di antaranya Honda, Coca-Cola, Unilever, JanSport, Levi Strauss, The North Face, Verizon, dan Starbucks. Alasannya cukup jelas, mereka tidak ingin mendukung ujaran kebencian yang saat ini ramai diperbincangkan di media sosial.

Meski hal ini terjadi di Amerika Serikat, bukan hal yang mustahil kejadian ini juga bisa terjadi di Indonesia. Pasalnya, ujaran kebencian juga kerap terpampang di berbagai status pengguna media sosial di Indonesia terutama Facebook dan Twitter. Jika ini terjadi, tentu hal yang sangat menguntungkan bagi media mainstream seperti media cetak dan televisi. (Baca: KPAI Berharap Seleksi PPDB Tetap Berbasis Kelurahan)

Media mainstream mempunyai keunggulan verifikasi berita yang benar sehingga jauh dari penyajian-penyajian berita hoax atau palsu. Kesadaran banyak pihak terkait maraknya berita hoax inilah yang harus dimanfaatkan oleh media mainstream.

Kondisi ini menurut Ketua Umum Perhumas Agung Laksamana harus dimanfaatkan oleh media mainstream seperti koran dan televisi. Selama ini kekuatan sosial media seperti Facebook, menurutnya, ialah keakuratan data konsumen. Namun, ternyata Facebook juga memiliki kelemahan menjaga konten yang beredar di dalamnya.

"Media mainstream punya keunggulan untuk menyampaikan konten yang positif dan menginspirasi. Terutama di tengah masyarakat jenuh dengan konten yang berhubungan dengan Covid-19. Namun, harus ada penyampaian yang lebih kreatif, seperti webinar ataupun aktivitas berbasis online lainnya," ujar Agung di Jakarta kemarin.

Lebih lanjut, dia juga mengingatkan media mainstream agar memperhatikan kebutuhan brand yang berbeda seusai sektor. Misalnya saat ini brand sektor asuransi yang lebih agresif dibandingkan bisnis lainnya. Karena itu, media mainstream harus terus menjaga relasi hingga nanti pertumbuhannya kembali normal. "Bisnis lagi sepi tentu ikut menekan kemampuan iklan mereka. Tapi relasi harus terus dijaga karena saat situasi pulih tren iklan juga ikut berlari kencang," jelasnya. (Baca juga: Putin Desak Turki dan Iran Dorong Dialog di Suriah)

Dia menyarankan, kunci yang berkembang saat ini adalah Adopt, Adapt, dan Adept. Istilah Adopt berarti mengadopsi lingkungan baru yang saat ini disebut new normal. Lalu, Adapt artinya beradaptasi menemukan strategi dan jalur baru setelah mengadopsi lingkungan yang baru. Fase akhir adalah Adept, yang berarti sukses menguasai dan bahkan mampu berselancar di atas ombak kondisi new normal tersebut.

"Banyak tren yang belum lama viral, lalu sekarang hilang. Misalnya acara midnight sale atau buy one get one. Jadi, kita harus lebih kreatif membaca kebutuhan setiap sektor," katanya.

Research Director Iconomics Alex Mulya mengatakan, media mainstream harus lebih kreatif karena banyak keterbatasan, khususnya anggaran. Saat ini menurutnya masyarakat sudah ingin melihat konten inovasi untuk bisa meraih perhatian publik. Masyarakat mulai kurang antusias dengan hanya kesedihan seputar disaster relief, serta tidak hanya iklan dan marketing penyerahan CSR sehingga harus semakin kreatif.

"Angle positif tidak hanya membahas bantuan terkait Covid-19, tapi juga menunjukkan kinerja positif perusahaan yang masih bekerja dengan semangat karena isu sosial yang terlalu banyak akan membuat jenuh. Setidaknya beberapa bulan ke depan, minat masyarakat akan kembali pada komunikasi komersial dan organisasi," kata Alex. (Lihat videonya: Puluhan Pelanggar Lalu Linta Tak Pakai Masker Dihukum Berjemur)

Pengamat pasar modal dari Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, boikot terhadap Facebook menjadi sentimen positif untuk emiten media. Emiten media seperti MNC Group memiliki kemampuan untuk memanfaatkan peluang tersebut.

"Berarti perusahaan-perusahaan sekelas korporasi multinasional bisa menggunakan jasa iklan terhadap emiten media. Ini sangat memungkinkan, terjadi" ujar Nafan hari ini di Jakarta. (Hafid Fuad)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top