New Normal Jadi Angin Segar Bagi Industri Manufaktur, Produksi Masih Tertahan

Kamis, 02 Juli 2020 - 16:12 WIB
loading...
New Normal Jadi Angin...
Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, kebijakan new normal memang memberikan angin segar bagi industri manufaktur untuk meningkatkan kinerja atau output produksi. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit pada bulan Juni 2020 menempati level 39,1 atau mengalami kenaikan hingga 10 poin dibanding bulan Mei yang berada di angka 28,6. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, kebijakan new normal memang memberikan angin segar bagi industri manufaktur untuk meningkatkan kinerja atau output produksi.

Namun, perlu diperhatikan bahwa angka ini masih jauh di bawah level 50 sehingga industri manufaktur masih akan menekan produksi 1 bulan ke depan dan belum akan kembali memproduksi hingga ke level pra pandemi. "Jadi jangan diharapkan produksi akan kembali ke level kinerja di bulan Februari 2020 dalam waktu dekat karena pelaku industri masih wait and see," ujarnya di Jakarta, Kamis (2/7/2020).

(Baca Juga: Agus Gumiwang Siap Beri Stimulus untuk Genjot Industri Manufaktur )

Shinta melanjutkan, perusahaan juga akan mengontrol produksi dan stock barang sedemikian rupa sehingga suplai produk manufaktur bisa dihentikan atau diperbanyak sewaktu-waktu sesuai dengan perubahan pasar yang dapat terjadi sebulan kedepan. "Saat ini pun sebetulnya meskipun kegiatan ekonomi sudah meningkat, banyak perusahaan yang hanya menghabiskan stock saja atau menjual produk yang sudah diproduksi dibanding memproduksi baru," ungkapnya.

Menurut dia, kondisi pasar sepanjang relaksasi PSBB ini masih tidak pasti dan daya beli pun masih belum pulih. "Ini tentu mempengaruhi confidence pelaku usaha manufaktur dalam PMI dan dalam meng-setting target output produksi sebulan ke depan," imbuhnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, kebijakan new normal belum mampu sepenuhnya menggerakan industri. Faktor utamanya terletak pada masih rendahnya mobilitas masyarakat di era new normal.

"Data Google Mobility per 27 Juni 2020 menunjukkan pergerakan masyarakat ke tempat perbelanjaan secara nasional minus -23%. Untuk DKI Jakarta -32% setelah pelonggaran PSBB. Jadi masyarakat belum percaya diri untuk kembali berbelanja sehingga berdampak pada permintaan industri," ujarnya.

(Baca Juga: Aturan New Normal Dorong Kenaikan PMI Manufaktur Indonesia )

Sementara untuk ekspor, masih terjadi penurunan kinerja di negara tujuan utama. Pada akhirnya industri akan menahan laju pembelian bahan baku. Menurut dia, untuk PMI kembali ke level 50 diperkirakan masih butuh waktu setidaknya 6-12 bulan ke depan.

Kebijakan pemerintah dinilai masih belum cukup mendukung pelaku usaha karena rendahnya realisasi stimulus dunia usaha yang baru 6,8%. "Sementara stimulus untuk UMKM belum ada 1% nya. Lambatnya stimulus membuat daya dorong ke pelaku usaha terhambat," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bahlil Blak-blakan Terkait...
Bahlil Blak-blakan Terkait Isu Naiknya Harga Gas Industri di Jawa
PENAS XVII 2026 Jadi...
PENAS XVII 2026 Jadi Magnet Investasi Agribisnis, KTNA dan FERACO Perkuat Kolaborasi Industri dan Teknologi Pangan Nasional
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Percepat Produktivitas...
Percepat Produktivitas Manufaktur dengan Solusi Jaringan dan Storage Berbasis AI
Pertumbuhan Industri...
Pertumbuhan Industri dan Kontraksi Listrik Dinilai Masih Rasional
Indonesia Manufacturing...
Indonesia Manufacturing Symposium 2026, Membangun Sistem Enterprise
International Industrial...
International Industrial Week Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Dorong Daya Saing Industri Melalui Inovasi dan Kemitraan Strategis
Evita DPR Soroti Ruwetnya...
Evita DPR Soroti Ruwetnya Industri Tekstil Nasional
Rekomendasi
Arus Peti Kemas Bandar...
Arus Peti Kemas Bandar Lampung Sepanjang 2026 Alami Peningkatan Signifikan
Tunisia vs Belanda:...
Tunisia vs Belanda: Awas Tergelincir Oranje
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
Pakistan Kembangkan...
Pakistan Kembangkan Rudal Canggih Jadi Ancaman bagi AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved