Optimalkan Teknologi untuk Efisiensi Bisnis, Intip Penerapan Active Intelligence pada Rantai Pasok
Kamis, 29 September 2022 - 21:01 WIB
loading...
A
A
A
"Active intelligence dibangun dari data service dan analitic service secara real time agar pelaku bisnis berkontribusi dalam perkembangan bisnis. Misalnya customer experience dengan loyalti program dan operasional efisensi," paparnya.
Terkait active intelligence pada rantai pasok, Beny menyebut strategi ini kerap digunakan perusahaan terutama untuk menaikkan daya saing. Dengan supply chain, sisi hulu ke hilir dapat terpantau. "Ada lima hal kita highlight, yaitu pelanggan, perencanaan, pembelian, produksi distribusi, dan penyimpanan," urainya.
Dia menambahkan, Sibernetik untuk lima tahun ke depan akan fokus pada bisnis use case. Antara lain terkait cara mendorong pendapatan, mengurangi biaya operasional, dan mitigasi yang membantu perusahaan semakin terdepan.
GM of Supply Chain Development & Performance at PT Semen Indonesia, Yoseph Budi Wicaksono menyebut dua poin yang menjadi tantangan pada supply chain di Semen Indonesia adalah skala dan standardisasi.
Skala terkait dengan pasokan semen di PT Semen Indonesia yang dalam setahun memasok kurang lebih 40 juta ton produk. Sedangkan standardisasi karena Semen Indonesia merupakan gabungan dari perusahaan semen di Indonesia. "Bicara mengelola supply chain, kita ada satu keyword, yaitu biaya untuk melayani (cost to serce) yang paling optimal," tuturnya.
Pada komponen cost to serve, terdapat data, visibility yang keputusannya harus berbasis informasi dan alat untuk mengoptimalkan rantai pasok. "Tentu akan susah kalau dikelola secara manual," tukas dia.
Baca juga: Resmikan BUMN Startup Day 2022, Jokowi Ungkap Penyebab Bisnis Rintisan Gagal Berkembang
Terkait active intelligence pada rantai pasok, Beny menyebut strategi ini kerap digunakan perusahaan terutama untuk menaikkan daya saing. Dengan supply chain, sisi hulu ke hilir dapat terpantau. "Ada lima hal kita highlight, yaitu pelanggan, perencanaan, pembelian, produksi distribusi, dan penyimpanan," urainya.
Dia menambahkan, Sibernetik untuk lima tahun ke depan akan fokus pada bisnis use case. Antara lain terkait cara mendorong pendapatan, mengurangi biaya operasional, dan mitigasi yang membantu perusahaan semakin terdepan.
GM of Supply Chain Development & Performance at PT Semen Indonesia, Yoseph Budi Wicaksono menyebut dua poin yang menjadi tantangan pada supply chain di Semen Indonesia adalah skala dan standardisasi.
Skala terkait dengan pasokan semen di PT Semen Indonesia yang dalam setahun memasok kurang lebih 40 juta ton produk. Sedangkan standardisasi karena Semen Indonesia merupakan gabungan dari perusahaan semen di Indonesia. "Bicara mengelola supply chain, kita ada satu keyword, yaitu biaya untuk melayani (cost to serce) yang paling optimal," tuturnya.
Pada komponen cost to serve, terdapat data, visibility yang keputusannya harus berbasis informasi dan alat untuk mengoptimalkan rantai pasok. "Tentu akan susah kalau dikelola secara manual," tukas dia.
Baca juga: Resmikan BUMN Startup Day 2022, Jokowi Ungkap Penyebab Bisnis Rintisan Gagal Berkembang
Lihat Juga :