Beberkan Perhitungan Harga BBM, Mantan Menteri ESDM Gunakan Perumpamaan Rendang
Minggu, 02 Oktober 2022 - 13:01 WIB
loading...
A
A
A
"Bisa dibayangkan, kalau dalam lima tahun terakhir dapur margin untuk membuat rendang (BBM) misalnya hanya Rp100 ribu/kg sekarang menjadi Rp300 ribu/kg. Ditambah lagi kalau pada saat yang bersamaan harga daging sapi (minyak mentah) juga ikut naik. Konsumen yang membutuhkan rendang (BBM) tentunya akan semakin terbebani," kata Arcandra.
Arcandra melanjutkan analoginya, kalau ada acara yang anggarannya terbatas dan harus menyediakan menu rendang (BMM) setiap saat, maka membeli rendang (BBM) yang siap santap mungkin akan mahal. Agar fluktuasi harga rendang (BBM) lebih terjamin, salah satu solusi yang tepat adalah membuat dapur (kilang) sendiri yang tidak saja bisa membuat rendang, tapi juga bisa membuat masakan padang yang lain.
"Tentunya butuh investasi dan kesabaran agar bisa membuat dapur (kilang) yang memberikan margin yang baik," jelasnya.
Menurut Arcandra, dalam konteks pemenuhan BBM, dengan refinery margin yang sangat tinggi pada tahun ini dan bisa jadi tahun-tahun yang akan datang, strategi yang teliti, cermat dan cerdas sangat dibutuhkan dalam masa transisi menuju net-zero emisi tahun 2050 atau 2060.
Baca juga: Fadli Zon: Usut Tembakan Gas Air Mata Rusuh Arema FC vs Persebaya!
"Membuat 'restoran padang' (refinery/kilang) sendiri yang memungkinan produksi 'rendang' (BBM) menjadi lebih efisien perlu untuk dipikirkan, direncanakan dan segera diwujudkan. Realitasnya dunia masih memerlukan energi fosil paling tidak hingga 30 tahun lagi. Namun demikian pengembangan energi terbarukan juga jangan sampai terabaikan," pungkas Arcandra.
Arcandra melanjutkan analoginya, kalau ada acara yang anggarannya terbatas dan harus menyediakan menu rendang (BMM) setiap saat, maka membeli rendang (BBM) yang siap santap mungkin akan mahal. Agar fluktuasi harga rendang (BBM) lebih terjamin, salah satu solusi yang tepat adalah membuat dapur (kilang) sendiri yang tidak saja bisa membuat rendang, tapi juga bisa membuat masakan padang yang lain.
"Tentunya butuh investasi dan kesabaran agar bisa membuat dapur (kilang) yang memberikan margin yang baik," jelasnya.
Menurut Arcandra, dalam konteks pemenuhan BBM, dengan refinery margin yang sangat tinggi pada tahun ini dan bisa jadi tahun-tahun yang akan datang, strategi yang teliti, cermat dan cerdas sangat dibutuhkan dalam masa transisi menuju net-zero emisi tahun 2050 atau 2060.
Baca juga: Fadli Zon: Usut Tembakan Gas Air Mata Rusuh Arema FC vs Persebaya!
"Membuat 'restoran padang' (refinery/kilang) sendiri yang memungkinan produksi 'rendang' (BBM) menjadi lebih efisien perlu untuk dipikirkan, direncanakan dan segera diwujudkan. Realitasnya dunia masih memerlukan energi fosil paling tidak hingga 30 tahun lagi. Namun demikian pengembangan energi terbarukan juga jangan sampai terabaikan," pungkas Arcandra.
(uka)
Lihat Juga :