Profil 3 Pendiri Traveloka, Nomor 1 Masuk Daftar Terkaya di Dunia
Selasa, 04 Oktober 2022 - 14:14 WIB
loading...
A
A
A
2. Derianto Kusuma
Lahir dan besar di Indonesia, Derianto belajar ilmu komputer di Stanford University di California pada 2006-2010. Mengutip profilnya di laman linkedin, Deri, sapaan akrab Derianto, tercatat pernah bekerja di Microsoft sebagai Software Development Engineer in Test pada April 2010-Mei 2011. Selanjutnya, dia bekerja sebagai Senior Software Engineer di LinkedIn pada Juni 2011 selama kurang dari setahun.
Pada Maret 2012, Deri mulai membangun Traveloka bersama dua sahabatnya, di mana posisinya sebagai Co-founder dan Chief Technology Officer (CTO) Traveloka.
Bersama pendiri Traveloka lainnya, Derianto berhasil membawa perusahaan ini mencapai pertumbuhan luar biasa hingga menjadi salah satu perusahaan teknologi terkemuka di Asia Tenggara.
Enam tahun lebih bersama Traveloka, Deri mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai CTO yang efektif pada 30 November 2018.
CEO dan Co-Founder Traveloka Ferry Unardi dalam keterangan tertulis pada Selasa, 27 November 2018, menyebut Deri memiliki peran tak tertandingi dalam pertumbuhan dan kesuksesan Traveloka. Peran Deri tidak hanya membangun dan membesarkan sistem dan kapabilitas teknologi yang sustainable, tapi juga organisasi yang sustainable.
Usai keluar dari Traveloka, Deri berfokus mengembangkan usaha baru dalam kategori yang tidak bersaing dengan Traveloka. Pria yang kini tinggal di Singapura itu dikabarkan menjalankan startup tahap awal.
Baca juga: Erick Thohir Beberkan 4 Kriteria Startup yang Bisa Menerima Investasi dari BUMN
3. Albert
Sama seperti Ferry, Albert menimba ilmu komputer di Universitas Purdue di Amerika. Pria asal Medan itu juga sempat bekerja di salah satu perusahaan di Negeri Paman Sam sebelum kembali ke Indonesia dan ikut membidani kelahiran Traveloka.
Demi fokus membangun Traveloka, Albert resign dari Netsuite, perusahaan penyedia layanan awan yang lantas diakuisisi oleh Oracle. Bersama dua sahabatnya, Albert merintis bisnis reservasi tiket pesawat berbasis teknologi atau dikenal juga sebagai biro perjalanan online (online travel agent/OTA) pada 2012. Di Traveloka, Albert menjabat sebagai Head of Design.
Bermula dari delapan karyawan, Traveloka yang telah menjelma menjadi lifestyle superapp kini memiliki lebih dari 2.000 talenta terbaik dari Asia Tenggara dan kawasan lainnya seperti Eropa dan Amerika.
Lahir dan besar di Indonesia, Derianto belajar ilmu komputer di Stanford University di California pada 2006-2010. Mengutip profilnya di laman linkedin, Deri, sapaan akrab Derianto, tercatat pernah bekerja di Microsoft sebagai Software Development Engineer in Test pada April 2010-Mei 2011. Selanjutnya, dia bekerja sebagai Senior Software Engineer di LinkedIn pada Juni 2011 selama kurang dari setahun.
Pada Maret 2012, Deri mulai membangun Traveloka bersama dua sahabatnya, di mana posisinya sebagai Co-founder dan Chief Technology Officer (CTO) Traveloka.
Bersama pendiri Traveloka lainnya, Derianto berhasil membawa perusahaan ini mencapai pertumbuhan luar biasa hingga menjadi salah satu perusahaan teknologi terkemuka di Asia Tenggara.
Enam tahun lebih bersama Traveloka, Deri mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai CTO yang efektif pada 30 November 2018.
CEO dan Co-Founder Traveloka Ferry Unardi dalam keterangan tertulis pada Selasa, 27 November 2018, menyebut Deri memiliki peran tak tertandingi dalam pertumbuhan dan kesuksesan Traveloka. Peran Deri tidak hanya membangun dan membesarkan sistem dan kapabilitas teknologi yang sustainable, tapi juga organisasi yang sustainable.
Usai keluar dari Traveloka, Deri berfokus mengembangkan usaha baru dalam kategori yang tidak bersaing dengan Traveloka. Pria yang kini tinggal di Singapura itu dikabarkan menjalankan startup tahap awal.
Baca juga: Erick Thohir Beberkan 4 Kriteria Startup yang Bisa Menerima Investasi dari BUMN
3. Albert
Sama seperti Ferry, Albert menimba ilmu komputer di Universitas Purdue di Amerika. Pria asal Medan itu juga sempat bekerja di salah satu perusahaan di Negeri Paman Sam sebelum kembali ke Indonesia dan ikut membidani kelahiran Traveloka.
Demi fokus membangun Traveloka, Albert resign dari Netsuite, perusahaan penyedia layanan awan yang lantas diakuisisi oleh Oracle. Bersama dua sahabatnya, Albert merintis bisnis reservasi tiket pesawat berbasis teknologi atau dikenal juga sebagai biro perjalanan online (online travel agent/OTA) pada 2012. Di Traveloka, Albert menjabat sebagai Head of Design.
Bermula dari delapan karyawan, Traveloka yang telah menjelma menjadi lifestyle superapp kini memiliki lebih dari 2.000 talenta terbaik dari Asia Tenggara dan kawasan lainnya seperti Eropa dan Amerika.
(ind)
Lihat Juga :