Permintaan Baterai Lithium Indonesia di 2035 hanya 1,1% dari Bisnis Global

Rabu, 12 Oktober 2022 - 09:49 WIB
loading...
Permintaan Baterai Lithium Indonesia di 2035 hanya 1,1% dari Bisnis Global
Permintaan baterai kendaraan listrik Indonesia pada 2035 mencapai 59,1 GWh. Foto/AseanBreifing
A A A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) memproyeksikan permintaan baterai kendaraan listrik domestik hingga 2035 dapat menembus 59,1 gigawatt per hour (GWh). Perkiraan permintaan domestik itu masih relatif kecil atau hanya 1,1% jika dibandingkan dengan bisnis baterai dunia yang diproyeksikan menembus 5.300 GWh.

Baca juga: Ciptakan Ekosistem Kendaraan Listrik yang Memadai, Ini 3 PR Pemerintah

“Pada 2035 nanti permintaan baterai lithium dunia menjadi 5.300 GWh. Lompatannya luar biasa, sebaliknya permintaan di dalam negeri sekitar 59,1 GWh,” kata Staf Khusus Menteri ESDM Agus Tjahajana saat acara Investor Daily Summit 2022 dikutip Rabu (12/10/2022).

Agus membeberkan bahwa pertumbuhan permintaan baterai listrik domestik itu hanya sekitar 1,1% jika dibandingkan dengan potensi perdagangan baterai dunia hingga 2035 mendatang.

“Walaupun permintaan domestik masih terbatas, namun Indonesia bisa diperhitungkan dalam industri baterai dunia lewat kemitraan dengan pemain-pemain global untuk dapatkan pasar, teknologi serta pengalaman,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) memperkirakan permintaan mobil dan motor listrik masing-masing bakal tembus di angka 400.000 unit dan 1,2 juta unit atau tumbuh sampai 4 kali lipat pada 2025 mendatang.

IBC sendiri terus mencari investor prospektif untuk membangun industri pembentuk komponen sel baterai yang belum dapat diproduksi di dalam negeri, seperti anoda, elektrolit, selubung, dan separator.

Baca juga: Rusia Masukkan Meta dalam Daftar Organisasi Teroris dan Ekstremis

Perusahaan patungan IBC bersama dengan PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd (CBL) dan LG Energy Solution (LGES) baru dapat mengerjakan hasil penambangan bijih nikel lewat teknologi HPAL dan RKEF. Setelah itu bijih nikel diolah menjadi kimia baterai dan katoda yang belakangan dibentuk ke dalam sel baterai.

(uka)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2378 seconds (10.55#12.26)