Wall Street Dibuka Loyo, Pelaku Pasar Tunggu Data Makro dan Suku Bunga
Senin, 05 Desember 2022 - 23:54 WIB
loading...
Wall Street dibuka melemah. Ilustrasi Foto/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Tiga indeks utama Wall Street hari ini dibuka melemah. Para pelaku pasar modal di Amerika Serikat (AS) tengah menunggu data sektor jasa atau non-manufaktur, di samping penetapan suku bunga oleh bank sentral AS Federal Reserve atau The Fed pada pertengahan bulan ini.
Dow Jones Industrial Average turun 0,61% menjadi 34.218,98, S&P 500 merosot 0,67% di 4.044,25, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,60% di level 11.392,77.
Komponen saham yang paling aktif diperdagangkan di bawah indeks S&P 500 di antaranya Tesla, Amazon.com, dan Meta Platforms.
Tiga top gainers diduduki oleh Diamondback menguat 2,70%, CF Industries menanjak 2,59%, dan Marathon Oil menanjak 2,52%. Adapun top losers ditempati oleh VF turun 7,19%, PVH merosot 3,76%, dan Ralph Lauren A tertekan 3,24%.
Saat ini para investor menantikan data Institute of Supply Management periode November 2022 yang akan melaporkan kondisi sektor jasa atau non-manufaktur, setelah sebelumnya tumbuh dalam fase yang lamban di Oktober.
"Jika data hari ini masuk lebih rendah, maka itu berarti ada satu alasan lagi untuk percaya bahwa resesi tidak lama lagi," kata kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities Peter Cardillo, dilansir Reuters, Senin (5/12/2022).
Baca juga: Bank Indonesia Waspada, Puncak Suku Bunga The Fed Bisa Capai 6% di 2023
Dow Jones Industrial Average turun 0,61% menjadi 34.218,98, S&P 500 merosot 0,67% di 4.044,25, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,60% di level 11.392,77.
Komponen saham yang paling aktif diperdagangkan di bawah indeks S&P 500 di antaranya Tesla, Amazon.com, dan Meta Platforms.
Tiga top gainers diduduki oleh Diamondback menguat 2,70%, CF Industries menanjak 2,59%, dan Marathon Oil menanjak 2,52%. Adapun top losers ditempati oleh VF turun 7,19%, PVH merosot 3,76%, dan Ralph Lauren A tertekan 3,24%.
Saat ini para investor menantikan data Institute of Supply Management periode November 2022 yang akan melaporkan kondisi sektor jasa atau non-manufaktur, setelah sebelumnya tumbuh dalam fase yang lamban di Oktober.
"Jika data hari ini masuk lebih rendah, maka itu berarti ada satu alasan lagi untuk percaya bahwa resesi tidak lama lagi," kata kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities Peter Cardillo, dilansir Reuters, Senin (5/12/2022).
Baca juga: Bank Indonesia Waspada, Puncak Suku Bunga The Fed Bisa Capai 6% di 2023
Lihat Juga :