Wilmar Padi Indonesia Optimalkan Produk Samping

Rabu, 14 Desember 2022 - 21:37 WIB
loading...
Wilmar Padi Indonesia...
Rice Head Business PT Wilmar Padi Indonesia Saronto Soebagio (kanan) menerima cenderamata dari Ketua Komisi IV DPR RI Sudin di Kawasan Industri Terpadu Wilmar (KITW) Serang, Selasa (13/12/2022)
A A A
SERANG - PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) mengoptimal produk samping (by product) di industri penggilingan padinya. Produk samping tersebut selain bisa menambah pendapatan perseroan juga untuk kesejahteraan petani yang dibinanya.

Rice Head Business PT Wilmar Padi Indonesia Saronto Soebagio mengatakan pabrik penggilan padinya memproses gabah menjadi beras berkualitas premium. Dalam proses penggilingan tersebut terdapat produk samping yang bernilai ekonomi.

Misalnya saja bekatul dijual ke produsen pakan ternak, sekam atau kulit gabah dijadikan bahan bakar untuk boiler pabrik, dan menir dijual ke industri tepung beras. Jika selama ini menir dijual, nantinya akan diproses sendiri. Pasalnya, Wilmar akan bangun pabrik tepung beras untuk memproses menir yang merupakan by product dari penggilingan padinya.

(Baca juga:PT Wilmar Padi Indonesia Lebarkan Sayap ke Serang)

“Nilai tambahnya itu banyak banget. Tapi itu tidak dinikmati seluruhnya oleh Wilmar, karena sebagiannya dikembalikan ke petani dengan cara membeli gabah petani di atas harga pasar,” kata Saronto saat menerima kunjungan kerja dari Komisi IV DPR RI dan Dirjen Tanaman Pangan ke penggilingan padi modern milik Wilmar di Serang, Banten, Selasa (13/12/2022).

Saronto menjelaskan hingga saat ini sudah memasuki tahun ketiga WPI menjalin kerja sama atau membina 5.559 petani dengan luas lahan 4.424 hektare (ha) dan 49 demplot. Kerja sama tersebut tersebar di Mojokerto, Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Banten, Kuala Tanjung, Medan, dan Palembang. “Petani senang dengan kerja sama ini. Mereka kembali pada musim tanam kedua dan ketiga,” katanya.

Ia mengatakan dari uji coba melalui demplot diperoleh peningkatan produksi sebesar 15-30%. Sedangkan aplikasi di lapangan dengan luasan yang besar peningkatan produksi petani rata-rata 15%. Hal itu turut berkontribusi bagi peningkatan kesejahteraan petani dan sejalan dengan visi dan misi perusahaan agar generasi muda tertarik masuk ke pertanian.

(Baca juga:Wilmar Operasikan Sekolah Alam di Kawasan Konservasi)

Pihaknya pun turut menyediakan surveyor yang memantau harian ke petani langsung. Tak hanya itu pihaknya juga menjalin kerja sama dengan produsen bibit unggulan, pestisida dan Pupuk Mahkota yang diproduksi PT Wilmar Chemical Indonesia. Hal itu merupakan faktor utama dalam peningkatan produksi. “Kalau faktor utamanya sudah tersedia, peningkatan produksi akan sangat mungkin tercapai,” katanya.

Tak hanya itu, ia pun menjawab terkait isu monopoli beras oleh Wilmar. Menurutnya, penyerapan yang dilakukan oleh perusahaan masih sangat kecil dibanding total produksi di Indonesia. “Contohnya, penyerapan gabah di Jawa Timur hanya 2,93%, Banten 0,75% dan Lampung 0,53%,” jelasnya.

(Baca juga:Wilmar Pasok Tandan Kosong untuk Budidaya Jamur)

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Sudin berpesan agar Wilmar turut menggandeng penggilingan kecil dan menengah agar dapat menyerap produk seperti menir yang biasa digunakan untuk bahan tepung beras, bekatul, dan sekam.

“Kalau Wilmar bukan hanya produksi beras, tapi ada bekatul, menirnya, sekam. Ini kan dijual semua, bisa jadi rice bran oil. Jadi turunannya banyak. Kalau penggilingan kecil hanya punya penggilingan sama gabah. Bekatulnya belum tentu mereka bisa pilah,” kata Sudin.

Ia mengatakan jika hal tersebut dilakukan maka bisa memberikan dampak yang besar lagi terhadap masyarakat. “Ini mereka kumpulkan dan dijual. (Penggilingan) yang kecil suplai yang besar. Yang besar bantu yang kecil. Selama ini (bekatul) masih dianggap sampah,” katanya.
(dar)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Serap Beras Petani,...
Serap Beras Petani, Kapasitas Gudang Bulog Ditambah hingga 7 Juta Ton
Cadangan Beras RI Sentuh...
Cadangan Beras RI Sentuh Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Capai 5,37 Juta Ton
Dorong Ketahanan Pangan,...
Dorong Ketahanan Pangan, Asuransi Jasindo Gelar Program Pengembangan Beras Sehat di Karawang
Harga Tepung Beras Melonjak,...
Harga Tepung Beras Melonjak, Pelaku UMKM Kini Tertekan
Surplus Beras 13%, Indonesia...
Surplus Beras 13%, Indonesia Buka Keran Ekspor ke Arab Saudi dan Papua Nugini
Indonesia Resmi Lepas...
Indonesia Resmi Lepas Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Tepis Feri Amsari, HKTI...
Tepis Feri Amsari, HKTI Sebut Kondisi Riil Stok Beras Melimpah
Ratusan Hektare Sawah...
Ratusan Hektare Sawah Rusak, Pekerja Penggilingan Padi Pakuhaji Tangerang Minta Bantuan DPR
Penuhi Kebutuhan Konsumsi...
Penuhi Kebutuhan Konsumsi Jemaah, Menhaj Inisiasi Program Beras Haji Nusantara
Rekomendasi
Lengkap! Daftar SD dan...
Lengkap! Daftar SD dan SMP Swasta Gratis di Kota Tangerang untuk SPMB 2026
Gestur Mesra Sarwendah...
Gestur Mesra Sarwendah dan Gio saat Live Tuai Kritikan, Disebut Tak Sopan
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Berita Terkini
IHSG Menguat 2,67% Sore...
IHSG Menguat 2,67% Sore Ini, Ditutup di Level 5.900
Maritza Consulting Bidik...
Maritza Consulting Bidik Pertumbuhan Penjualan Properti Lewat Strategi Berbasis Data
Harga BBM dan LPG Subsidi...
Harga BBM dan LPG Subsidi Tak Naik Seperti Pertamax, Bahlil: Itu Perintah Presiden
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Komisi XII Ingatkan Dampaknya terhadap Daya Beli
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Berbagai Jenis ETF Sebelum Berinvestasi
Rupiah Membaik Tinggalkan...
Rupiah Membaik Tinggalkan Level Rp18.000 per USD, Ini Sentimennya
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved