Bahlil: Sampai Ayam Tumbuh Gigi, Indonesia Tidak Akan Punya Smelter Sendiri
Rabu, 14 Desember 2022 - 23:48 WIB
loading...
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia memberkan, penyebab kenapa pengusaha pribumi tidak akan bisa mempunyai smelter sendiri. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia memberkan, penyebab kenapa pengusaha pribumi tidak akan bisa mempunyai smelter sendiri.Hilirisasi sejauh ini selalu mengandalkan investor asing untuk menggarap sumber daya mineral yang ada di Indonesia.
"Kalau sistem perbankan kita tidak memberikan kelonggaran kepada pengusaha pengusaha nasional, khususnya yang pribumi, bagaimana bisa (mempunyai smelter)," ujar Menteri Bahlil di kompleks parlemen, Rabu (14/12/2022).
Baca Juga: Kebut Hilirisasi, 48 Proyek Smelter Ditargetkan Selesai 2024
Bahlil menilai saat ini perbankan di Indonesia kurang mendukung untuk pengusaha nasional membangun smelter sendiri. Hal tersebut menurut Bahlil dapat dilihat dari equitas perbankan yang diberikan mencapai 30-40%.
Menurutnya angka tersebut cukup memberatkan para pribumi untuk membangun smelter. Padahal angka yang ideal menurut Bahlil seharusnya berada di 10-20%.
"Untuk membangun satu line, itu butuh investasi USD 200-250 juta, perbankan kita tidak membiayai smelter, andaikan mereka membiayai equity-nya itu 30-40%, dari mana anak-anak (Indonesia) punya smelter," sambung Bahlil.
Baca Juga: Pembangunan Smelter Freeport Diharapkan Prioritaskan Pabrikan Lokal
"Kalau sistem perbankan kita tidak memberikan kelonggaran kepada pengusaha pengusaha nasional, khususnya yang pribumi, bagaimana bisa (mempunyai smelter)," ujar Menteri Bahlil di kompleks parlemen, Rabu (14/12/2022).
Baca Juga: Kebut Hilirisasi, 48 Proyek Smelter Ditargetkan Selesai 2024
Bahlil menilai saat ini perbankan di Indonesia kurang mendukung untuk pengusaha nasional membangun smelter sendiri. Hal tersebut menurut Bahlil dapat dilihat dari equitas perbankan yang diberikan mencapai 30-40%.
Menurutnya angka tersebut cukup memberatkan para pribumi untuk membangun smelter. Padahal angka yang ideal menurut Bahlil seharusnya berada di 10-20%.
"Untuk membangun satu line, itu butuh investasi USD 200-250 juta, perbankan kita tidak membiayai smelter, andaikan mereka membiayai equity-nya itu 30-40%, dari mana anak-anak (Indonesia) punya smelter," sambung Bahlil.
Baca Juga: Pembangunan Smelter Freeport Diharapkan Prioritaskan Pabrikan Lokal
Lihat Juga :