alexametrics

Koreksi Rupiah Belum Berdampak Signifikan ke KAEF

loading...
Koreksi Rupiah Belum Berdampak Signifikan ke KAEF
Koreksi rupiah belum berdampak signifikan ke KAEF. Foto: Logo/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menyatakan terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) cukup membebani perseroan karena 90% bahan baku diperoleh dari impor.

Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis KAEF M Wahyuli Syafari mengatakan, sebagai perusahaan farmasi, perseroan masih mengandalkan bahan baku impor, dengan transaksi menggunakan mata uang USD.

"Bahan baku kami sebagian besar masih impor, jumlahnya sekitar 90%," kata dia kepada Sindonews di Jakarta, Jumat (13/3/2015).



Meski demikian, dia mengatakan, perseroan masih belum merasakan dampak yang signifikan dari menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Pasalnya, bahan baku produksi tersebut telah dibeli sejak tahun lalu.

"Naiknya sampai Rp13.000 kan baru dalam dua minggu ini, sedangkan kita sudah beli bahan baku sejak November 2014, di mana USD masih Rp12.500," paparnya.

Wahyuli menuturkan, dalam pembelian bahan baku farmasi memang telah direncanakan sejak jauh hari sebelum diproduksi. Harga yang telah sepakat dibeli saat November tahun lalu, tiba pada Januari dan Februari tahun ini.

"Tapi kita akan memperhitungkan pembelian bahan baku untuk enam bulan ke depan. Tahun ini, kita menggunakan nilai tukar sesuai ketetapan pemerintah dalam APBN, yaitu Rp12.500/USD," ujar dia.

Emiten farmasi plat merah tersebut juga memastikan tidak ada pabrik yang ditunda pembangunannya pada tahun ini. KAEF tetap akan membangun pabrik farmasi di Banjaran untuk memindahkan pabrik yang telah ada sebelumnya di Bandung.

"Kami belum berencana menunda proyek karena dolar AS, pabrik garam juga tetap dibangun karena masih menggunakan nilai tukar sebelumnya," pungkasnya.
(rna)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak