Demi UMKM, Teten Pangkas Proses Pemberian Kredit Jadi Tiga Tahap
Senin, 13 Juli 2020 - 06:22 WIB
loading...
A
A
A
"Ketahanan pangan kita lemah karena petani dan nelayan mengelola sumber daya yang dimilikinya secara kecil-kecilan, bukan berskala ekonomi, sehingga tidak bisa menguatkan ekonomi. Melihat perkembangan ancaman krisis pangan yang telah disampaikan FAO belakangan ini, dan juga pertumbuhan koperasi pertanian di Eropa dan koperasi perikanan di Jepang, seharusnya koperasi di Indonesia lebih besar," jelas Teten.
Ia menyampaikan, agar tidak khawatir Indonesia memang belum punya koperasi di sektor pangan yang bisa dibanggakan. Namun, pihaknya tengah bersinergi dengan sejumlah kementerian dan lembaga, didampingi dengan penguatan SDM petani dalam berkoperasi.
"Kemarin saya baru kembali dari Jawa Barat, bertemu petani dan nelayan. Saya selalu katakan, lahan yang dipinjamkan dua hektar per KK selama 35 tahun kalau dikelola secara perorangan ini tidak akan melahirkan kekuatan ekonomi. Kami mengajak mereka bergabung dalam koperasi pangan," ungkapnya.
Kemenkop UKM, lanjut dia, juga bersinergi dengan Perhutani dalam merencanakan koperasi pangan di Jawa. "Semoga ini menjadi model ke depannya, model koperasi pangan yang terencana dengan baik," tambah Teten.
Ia menyampaikan, agar tidak khawatir Indonesia memang belum punya koperasi di sektor pangan yang bisa dibanggakan. Namun, pihaknya tengah bersinergi dengan sejumlah kementerian dan lembaga, didampingi dengan penguatan SDM petani dalam berkoperasi.
"Kemarin saya baru kembali dari Jawa Barat, bertemu petani dan nelayan. Saya selalu katakan, lahan yang dipinjamkan dua hektar per KK selama 35 tahun kalau dikelola secara perorangan ini tidak akan melahirkan kekuatan ekonomi. Kami mengajak mereka bergabung dalam koperasi pangan," ungkapnya.
Kemenkop UKM, lanjut dia, juga bersinergi dengan Perhutani dalam merencanakan koperasi pangan di Jawa. "Semoga ini menjadi model ke depannya, model koperasi pangan yang terencana dengan baik," tambah Teten.
(uka)
Lihat Juga :