Rusia Berisiko Jadi Negara Gagal Akibat Mahalnya Perang Ukraina
Kamis, 12 Januari 2023 - 04:44 WIB
loading...
A
A
A
Sekitar 46% responden dalam survei memperkirakan Rusia akan menjadi negara gagal atau bubar pada tahun 2033. Secara terpisah, sekitar 40% responden memperkirakan Rusia "akan bubar secara internal karena beberapa alasan, tidak terbatas pada revolusi, perang saudara atau disintegrasi politik."
Sementara responden Eropa ditemukan lebih sinis tentang prospek jangka pendek Rusia, dengan 49% memprediksi skenario disintegrasi. Secara komparatif, hanya 36% responden Amerika yang mewakili sekitar 60% dari semua ahli yang disurvei menyatakan keyakinan yang sama.
Survei itu muncul ketika perang Rusia Ukraina tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Diketahui hampir setahun setelah invasi Rusia di Ukraina telah menimbulkan sejumlah besar kerusakan dan kehancuran hingga banyak korban jiwa. Ekonomi Kiev diperkirakan telah menyusut lebih dari 30% pada tahun 2022, menurut perkiraan terbaru dari kementerian ekonomi Ukraina.
September lalu, pemerintah Ukraina, Komisi Eropa dan Bank Dunia memprediksi, bahwa biaya rekonstruksi dan pemulihan di Ukraina bakal mencapai USD 349 miliar atau setara Rp 5.385 triliun (Kurs Rp 15.430 per USD). Angkanya sekarang kemungkinan jauh lebih tinggi, karena perang berlanjut hingga 2023. Sekutu Ukraina telah menyerukan Rusia untuk mendukung RUU rekonstruksi Ukraina.
Analis geopolitik menilai bahwa Rusia telah merugikan dirinya sendiri dengan mengejar keuntungan teritorial di Ukraina. Efeknya membuat mereka terasing dari banyak komunitas politik, perdagangan, dan bisnis internasional dan semakin bergantung pada negara-negara nakal seperti Iran dan Korea Utara untuk menjalin kemitraan dan senjata.
Moskow juga telah kehilangan sebagian besar bagian dari basis klien energi Eropa karena sanksi maupun keputusannya sendiri. Beberapa pejabat, entitas, dan industri Rusia saat ini beroperasi di bawah pembatasan Barat.
Sementara responden Eropa ditemukan lebih sinis tentang prospek jangka pendek Rusia, dengan 49% memprediksi skenario disintegrasi. Secara komparatif, hanya 36% responden Amerika yang mewakili sekitar 60% dari semua ahli yang disurvei menyatakan keyakinan yang sama.
Survei itu muncul ketika perang Rusia Ukraina tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Diketahui hampir setahun setelah invasi Rusia di Ukraina telah menimbulkan sejumlah besar kerusakan dan kehancuran hingga banyak korban jiwa. Ekonomi Kiev diperkirakan telah menyusut lebih dari 30% pada tahun 2022, menurut perkiraan terbaru dari kementerian ekonomi Ukraina.
September lalu, pemerintah Ukraina, Komisi Eropa dan Bank Dunia memprediksi, bahwa biaya rekonstruksi dan pemulihan di Ukraina bakal mencapai USD 349 miliar atau setara Rp 5.385 triliun (Kurs Rp 15.430 per USD). Angkanya sekarang kemungkinan jauh lebih tinggi, karena perang berlanjut hingga 2023. Sekutu Ukraina telah menyerukan Rusia untuk mendukung RUU rekonstruksi Ukraina.
Analis geopolitik menilai bahwa Rusia telah merugikan dirinya sendiri dengan mengejar keuntungan teritorial di Ukraina. Efeknya membuat mereka terasing dari banyak komunitas politik, perdagangan, dan bisnis internasional dan semakin bergantung pada negara-negara nakal seperti Iran dan Korea Utara untuk menjalin kemitraan dan senjata.
Moskow juga telah kehilangan sebagian besar bagian dari basis klien energi Eropa karena sanksi maupun keputusannya sendiri. Beberapa pejabat, entitas, dan industri Rusia saat ini beroperasi di bawah pembatasan Barat.
Lihat Juga :