Menkeu Sebut Pajak Risiko Fiskal Terbesar Ekonomi RI

Selasa, 01 Maret 2016 - 15:25 WIB
Menkeu Sebut Pajak Risiko...
Menkeu Sebut Pajak Risiko Fiskal Terbesar Ekonomi RI
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan bahwa saat ini penerimaan pajak merupakan satu-satunya risiko fiskal terbesar untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah mulai dikurangi yang biasanya menjadi 'tumbal' dalam merevisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Hal tersebut dikatakannya saat melantik Ken Dwijugiasteadi sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, menggantikan Sigit Priadi Pramudito yang mengundurkan diri akhir 2015.

Lanjut dia, di masa lalu risiko fiskal di Tanah Air terbagi antara pengeluaran melalui subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan pemasukan melalui penerimaan pajak. Meskipun penerimaan pajak tidak tercapai, namun yang biasanya dijadikan alasan untuk merevisi APBN adalah subsidi BBM.

"‎Di masa lalu kita masih punya excuse. Dalam tanda petik bahwa subsidi BBM kalau berlebih akan menjadi alasan untuk merevisi APBN, meskipun pada saat yang sama ada target penerimaan pajak yang tidak tercapai. Akhirnya jadi fokus pemerintah dengan DPR, dibanding penerimaan pajaknya," katanya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (1/3/2016).

(Baca Juga: Resmi Jabat Dirjen Pajak, Ken Dwijugiasteadi Diminta Tancap Gas)

Namun mulai tahun lalu, sambung mantan Wakil Menteri Keuangan ini, tidak ada lagi cerita risiko fiskal dari pengeluaran. Karena dari sisi pengeluaran semuanya sudah lebih dapat dikendalikan, sementara dari sisi penerimaan masih menjadi tantangan. "Tahun lalu pajak itu, khusus pajak saja 70% beserta bea dan cukai menjadi 85% dari total penerimaan," imbuh dia.

Menurutnya, penerimaan pajak menjadi tantangan sekaligus beban yang sangat berat saat ini. Sebab, tanpa penerimaan yang besar maka tidak akan ada belanja yang dapat menggerakkan ekonomi Indonesia. "Tanpa penerimaan yang besar, tidak akan ada belanja yang ekspansif. Tidak ada anggaran ekspansif yang nantinya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Sepakati Asumsi RAPBN...
Sepakati Asumsi RAPBN 2021, Kesehatan-Ekonomi Jadi Prioritas
Bayar Pajak kewajiban...
Bayar Pajak kewajiban konstitusi seluruh warga negara
Ramalan Jokowi: Ekonomi...
Ramalan Jokowi: Ekonomi RI Tahun 2022 Tumbuh 5,5%
Jadi Jantung Ekonomi...
Jadi Jantung Ekonomi RI, Jumlah Kelas Menengah Turun Drastis
Perry Warjiyo Lebih...
Perry Warjiyo Lebih Pede dari Pemerintah Soal Pertumbuhan Ekonomi RI di 2021
Airlangga Ungkap Alasan...
Airlangga Ungkap Alasan Jokowi Bilang Ekonomi RI Segar
Berita Terkini
IHSG Jeblok Nyaris 1%...
IHSG Jeblok Nyaris 1% ke 5.838 Siang Ini, Ratusan Saham Merana
46 menit yang lalu
Mentan Amran Kumpulkan...
Mentan Amran Kumpulkan Civitas Akademika UGM, Percepat Inovasi dan Hilirisasi Pertanian
1 jam yang lalu
Demi Jaga Pasokan Listrik,...
Demi Jaga Pasokan Listrik, Kebijakan DMO dan RKAB Perlu Dievaluasi
1 jam yang lalu
Indonesia Bakal Ciptakan...
Indonesia Bakal Ciptakan BBM Baru E20, Butuh 4 Juta KL Etanol per Tahun
2 jam yang lalu
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram, Ini Rinciannya
3 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved