Pasar Kecewa Ekonomi Buruk, Rupiah Loyo
Rabu, 29 Juli 2015 - 06:36 WIB
Pasar Kecewa Ekonomi Buruk, Rupiah Loyo
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto mengatakan, pasar kecewa dengan perkembangan ekonomi yang memburuk diiringi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD).
Menurutnya, pasar juga kecewa sebagian kebijakan ekonomi pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dan dunia usaha. Selain itu, janji-janji pemerintah belum terlihat nyata seperti percepatan pembangunan infrastruktur yang stagnan. (Baca: Pemerintah Tak Punya Strategi Atasi Pelemahan Rupiah)
"Kemudian faktor eksternal dipengaruhi dua hal yakni ketidakpastian kenaikan Federal Funds Rate (FFR) oleh The Fed membuat mata uang Asia tertekan, termasuk rupiah. Penurunan bursa saham Tiongkok (China) yang drastis juga membuat rupiah ikut tertekan," ujar Ryan, Selasa (28/7/2015).
Dia melanjutkan, dengan Bank Indonesia (BI) yang selalu ada di pasar dan mengeluarkan kebijakan moneter akomodatif, maka rupiah masih bisa dijaga di kisaran Rp13.000-Rp13.400. Namun, kata Ryan, rupiah akan kembali menguat jika kebijakan fiskal yang diaktifkan karena dampaknya langsung kelihatan, misalnya untuk infrastruktur.
"Jadi, PR (pekerjaan rumah) ada di pemerintah (bukan di BI) untuk mengembalikan kepercayaan pasar agar rupiah kembali menguat," tandasnya.
Baca juga:
Isu Reshuffle Bayang-bayangi Pelemahan Rupiah
BI Minta Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah
Core: Tak Ada Sinyal Rupiah Balik Menguat
Menurutnya, pasar juga kecewa sebagian kebijakan ekonomi pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dan dunia usaha. Selain itu, janji-janji pemerintah belum terlihat nyata seperti percepatan pembangunan infrastruktur yang stagnan. (Baca: Pemerintah Tak Punya Strategi Atasi Pelemahan Rupiah)
"Kemudian faktor eksternal dipengaruhi dua hal yakni ketidakpastian kenaikan Federal Funds Rate (FFR) oleh The Fed membuat mata uang Asia tertekan, termasuk rupiah. Penurunan bursa saham Tiongkok (China) yang drastis juga membuat rupiah ikut tertekan," ujar Ryan, Selasa (28/7/2015).
Dia melanjutkan, dengan Bank Indonesia (BI) yang selalu ada di pasar dan mengeluarkan kebijakan moneter akomodatif, maka rupiah masih bisa dijaga di kisaran Rp13.000-Rp13.400. Namun, kata Ryan, rupiah akan kembali menguat jika kebijakan fiskal yang diaktifkan karena dampaknya langsung kelihatan, misalnya untuk infrastruktur.
"Jadi, PR (pekerjaan rumah) ada di pemerintah (bukan di BI) untuk mengembalikan kepercayaan pasar agar rupiah kembali menguat," tandasnya.
Baca juga:
Isu Reshuffle Bayang-bayangi Pelemahan Rupiah
BI Minta Masyarakat Jaga Kedaulatan Rupiah
Core: Tak Ada Sinyal Rupiah Balik Menguat
(dmd)
Lihat Juga :