Menkeu Prioritaskan Stabilitas Dibanding Pertumbuhan

Selasa, 04 Agustus 2015 - 15:23 WIB
Menkeu Prioritaskan...
Menkeu Prioritaskan Stabilitas Dibanding Pertumbuhan
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pemerintah akan memprioritaskan stabilitas ekonomi dibanding pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal ini dilakukan untuk mencegah kasus krisis ekonomi 1997 terulang kembali. Sebab, krisis ekonomi 1997 terjadi lantaran pemerintah hanya fokus terhadap pertumbuhan ekonomi, namun mengenyampingkan stabilitas ekonomi.

"Bedanya dengan 1997 jelas, sekarang ini yang kita jaga stabilitas sambil upaya mendorong pertumbuhan. Karena 1997 yang terjadi, pertumbuhan luar biasa tapi stabilitas tidak. Jadinya kolaps," ujarnya di gedung BI, Jakarta, Selasa (4/8/2015).

Sebab itu, pemerintah memutuskan untuk menjaga stabilitas ekonomi sambil tetap meningkatkan pertumbuhan, dengan cara mendorong investasi masuk ke Indonesia. Khususnya, investasi dari belanja pemerintah.

"Belanja modal memang masih 15%, tapi dengan pola berulang, belanja modal akan naik pesat di semester II. Belanja modal akan 80%-85%. Berarti ada kenaikan 70%, ini yang kita harapkan pertumbuhan di semester II akan lebih baik," tegas dia.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengaku sepakat dengan langkah pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, sambil memacu pertumbuhan. Sebab, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (sustainable), terlebih dahulu perlu menjaga stabilitas ekonomi makro.

"Kita tidak ingin mengejar pertumbuhan ekonomi berlebihan, tapi ada gejolak di ekonomi makro. Sekarang ini inflasi terjaga, neraca perdagangan terjaga, dengan konsentrasi ke semester II akan ada dampak ke pertumbuhan ekonomi yang lebih sustain," jelasnya.

Agus menyebutkan, saat ini kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih dalam keadaan baik, ditandai dengan inflasi Juli yang hanya sekitar 0,93%, defisit transaksi berjalan yang diperkirakan hanya 2,3% dari GDP, serta neraca pembayaran dan perdagangan yang surplus pada periode Juni-Juli 2015.

"Kita harapkan ke depan inflasi akan rendah dan stabil. Transaksi berjalan yang sebelumnya kondisi cukup tinggi, sekarang kita perkirakan ada di 2,3% dari GDP," tandas dia.

Baca juga:

Menkeu: Rupiah Ambruk Urusan BI

Ekonomi Goyah, Pemerintah-BI Koordinasi via Whatsapp

BI Akui Ekonomi RI Diterpa Tantangan Kompleks

Indonesia Tidak Punya Lagi Penopang Ekonomi Kuat
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Proyeksi Pertumbuhan...
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kembali Dipangkas
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
BI Proyeksikan Ekonomi...
BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen hingga 5,5 Persen di 2025
Prospek Bisnis Seiring...
Prospek Bisnis Seiring Pertumbuhan Ekonomi RI
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
5 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
6 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
6 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
6 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
6 jam yang lalu
Infografis
3 Kelebihan DeepSeek...
3 Kelebihan DeepSeek dibanding ChatGPT dan Meta AI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved