Rupiah Lesu, BUMN Bandel Masih Jualan Pakai USD
Kamis, 27 Agustus 2015 - 00:11 WIB
Rupiah Lesu, BUMN Bandel Masih Jualan Pakai USD
A
A
A
JAKARTA - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, di tengah kondisi rupiah lesu masih banyak perusahaan milik negara (BUMN) yang menjual produknya menggunakan dolar Amerika Serikat (USD).
"BUMN jual masih dalam dolar, gas masih, Pelindo II masih dolar, yang bandel justru BUMN," ujarnya di Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Hariyadi mengatakan, belum tahu apakah untuk bahan bakar pesawat, yaitu avtur yang dijual Pertamina masih menggunakan USD atau tidak. "Saya tidak tahu avtur Pertamina pakai USD juga tidak. Harusnya fair berapa," ucapnya.
Dia menambahkan, saat ini kondisi sektor rill sedang mengalami situasi yang berat dengan berfluktuasinya nilai tukar rupiah terhadap USD. (Baca: Perang Mata Uang Sedang Terjadi)
"Kondisi sekarang di sektor riil situasi berat. Apalagi kita belum tahu situasi fluktuasi gejolak currency war (USD dan yuan). Kita lihat ini harus mulai berakhir," pungkasnya.
Baca juga:
Rupiah Berakhir Makin Nelangsa karena Aksi Jual
Dampak Nyata Pelemahan Rupiah Harga-harga Naik
Rupiah Ambruk, 60.000 Pekerja Tekstil Terkena PHK
"BUMN jual masih dalam dolar, gas masih, Pelindo II masih dolar, yang bandel justru BUMN," ujarnya di Jakarta, Rabu (26/8/2015).
Hariyadi mengatakan, belum tahu apakah untuk bahan bakar pesawat, yaitu avtur yang dijual Pertamina masih menggunakan USD atau tidak. "Saya tidak tahu avtur Pertamina pakai USD juga tidak. Harusnya fair berapa," ucapnya.
Dia menambahkan, saat ini kondisi sektor rill sedang mengalami situasi yang berat dengan berfluktuasinya nilai tukar rupiah terhadap USD. (Baca: Perang Mata Uang Sedang Terjadi)
"Kondisi sekarang di sektor riil situasi berat. Apalagi kita belum tahu situasi fluktuasi gejolak currency war (USD dan yuan). Kita lihat ini harus mulai berakhir," pungkasnya.
Baca juga:
Rupiah Berakhir Makin Nelangsa karena Aksi Jual
Dampak Nyata Pelemahan Rupiah Harga-harga Naik
Rupiah Ambruk, 60.000 Pekerja Tekstil Terkena PHK
(dmd)