Rizal Ramli Sebut Ada Tujuh Begal Importasi Garam

Senin, 21 September 2015 - 13:06 WIB
Rizal Ramli Sebut Ada...
Rizal Ramli Sebut Ada Tujuh Begal Importasi Garam
A A A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli menyebut saat ini ada tujuh 'begal' ‎dalam praktik impor garam di Tanah Air. Ketujuh 'begal' ini seperti predator yang mengambil keuntungan dari kuota impor garam yang diizinkan pemerintah.

Dia menjelaskan, saat ini importasi garam diatur oleh sistem kuota ‎di mana pemerintah dalam hal ini memberikan rekomendasi kuota impor garam tertentu. Sayangnya, sistem kuota tersebut dinilai justru merugikan, rentan suap, dan hanya menguntungkan segelintir oknum.

"Sistem kuota ini sangat merugikan, karena yang menarik manfaat dan keuntungan bukan rakyat, tapi pedagang atau kuota holder. Misal harga gula sangat murah di luar negeri, rakyat enggak menikmati. Namanya tujuh samurai. Saya anggap mereka tujuh 'begal'. Demikian juga di garam, ada tujuh pemegang kuota, mereka saya sebut tujuh 'begal' garam," ‎katanya di gedung BPPT, Jakarta, Senin (21/9/2015).

Menurutnya, sistem kuota untuk importasi garam ini tidak bagus dan harus diubah menjadi sistem tarif. Dengan sistem tersebut, siapapun dilenggangkan untuk impor garam‎ asalkan membayar tarif yang dipatok pemerintah. Sistem tarif ini dimaksudkan untuk melindungi petani garam.

"‎Sistem kuotanya sendiri sudah jelek, kelompok penguasa kuota ini bikin kartel yang kelakuannya kayak predatory. Istilahnya kartel predatory behaviour. Dan mereka ini kejam sekali," imbuh dia.

Mantan Menko bidang Perekonomian ini mengaku sebelumnya pernah melakukan penelitian untuk komoditi bawang. Para kartel bawang tersebut justru mengimpor bawang saat panen dan stok bawang di dalam negeri melimpah.

Akibatnya, harga bawang di dalam negeri semakin jatuh dan saat petani sudah enggan menanam bawang lagi, maka para kartel tersebut menaikkan harganya hingga selangit.

"‎Perilaku ini yang sangat berbahaya. Waktu panen mereka menaikkan impor, makanya sistem impor lewat kuota ini naik terus," ujar Rizal.

Sebab itu, sambung mantan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) ini, pihaknya meminta Kementerian Perdagangan untuk mengganti sistem kuota menjadi sistem tarif untuk importasi garam. Dia memperkirakan, tarif yang dipatok untuk importasi tersebut sekitar Rp150 hingga Rp200 per kilogram (kg).

"‎Itu cukup memberikan perlindungan ke petani. Cara ini lebih bagus dari pada memberikan subsidi ke nelayan," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Produksi dan Kebutuhan...
Produksi dan Kebutuhan Jomplang, RI Bakal Kecanduan Impor Garam
APGRI Beberkan Penyebab...
APGRI Beberkan Penyebab Indonesia Selalu Impor Garam
KPPU Endus Ada potensi...
KPPU Endus Ada potensi Rente di Impor Garam
Nasib, Nasib! Impor...
Nasib, Nasib! Impor Bakal Bikin 1,8 Juta Ton Garam Lokal Tak Terserap
Gula-Gula Erick Thohir...
Gula-Gula Erick Thohir buat Kebutuhan Garam yang Masih 'Asin'
Lima Maklumat Petani...
Lima Maklumat Petani Garam NU atas Rencana Impor Garam
Berita Terkini
Jetex dan Republik Manor...
Jetex dan Republik Manor Sinergi Kembangkan Layanan Aviasi Privat di Indonesia
8 jam yang lalu
Dampingi Presiden Resmikan...
Dampingi Presiden Resmikan Lima Bendungan, AHY: Perkuat Swasembada Pangan, Air dan Energi
8 jam yang lalu
Airlangga Sebut B50...
Airlangga Sebut B50 Bakal Hemat Devisa hingga Rp177 Triliun
9 jam yang lalu
YBM PLN EPI Dorong Pendidikan...
YBM PLN EPI Dorong Pendidikan Lingkungan melalui Wisata Edukasi
9 jam yang lalu
MNC Insurance Sabet...
MNC Insurance Sabet Penghargaan Anugerah Asuransi Indonesia 2026
10 jam yang lalu
Dukung Ketahanan Air...
Dukung Ketahanan Air dan Pangan, Dua Bendungan Garapan Nindya Karya Diresmikan Presiden
10 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved