Proyek Kereta Cepat Harus Pertimbangkan Untung-Rugi

Kamis, 15 Oktober 2015 - 20:11 WIB
Proyek Kereta Cepat...
Proyek Kereta Cepat Harus Pertimbangkan Untung-Rugi
A A A
JAKARTA - Proyek kereta cepat yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana Kereta Cepat antara Jakarta-Bandung masih diragukan sejumlah pihak. Banyak pihak yang menghitung untung-rugi atas pembangunan proyek tersebut.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit mengatakan, proyek itu sudah dipastikan tak ditanggung oleh APBN. Itu berarti risiko-risiko akan ditanggung oleh empat BUMN yang terdiri dari PT Wika (persero) Tbk, PT Jasa Marga (persero) Tbk, PT KAI (persero) serta PT Perkebunan Nusantara VIII.

“Mungkin masalahnya tak akan kelihatan sekarang. Tapi akan muncul ketika pada saat dioperasikan. Apakah investasinya bisa dikembalikan atau tidak. Kalau tidak tentu akan ada default pinjaman,” ujarnya, Kamis (15/10/2015).

Menurut Danang, pihaknya melalui MTI juga belum mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai skema maupun pendanaan tanpa melalui APBN terkait pembangunan proyek kereta cepat tersebut.

Di sisi lain terkait trayek Kereta Cepat yakni Jakarta-Walini-Bandung sebagaimana tertuang dalam perpres, lanjut dia, pihak konsorsium akan memanfaatkan pendapatan dari penumpang dan sektor properti.

“Saya dengar mereka mau mengkombinasikan pendapatan dari penumpang dan pengembangan kawasan properti. Tapi itu juga tergantung, apakah peminatnya tertarik ke kawasan tersebut,” tegasnya.

Wakil Ketua DPR Komisi VI, dari partai Demokrat, Azam Azman mengatakan, kereta cepat Jakarta-Bandung yang ada saat ini bukan merupakan kereta cepat, namun kereta sedang. Dia pun meragukan pemerintah bisa merealisasikan proyek tersebut.

“Dari sisi trayek saja saya rasa Bandung itu sudah terbuka semua. Mau melalui transportasi jalan tol, kereta, jalan nasional bahkan melalui udara juga sudah tersedia. Cukup ditingkatkan saja bukaan-bukaan tol itu saya kira sudah cukup,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, pemerintah hanya akan menyianyiakan anggaran besar dan investasi mahal jika proyek tersebut terealiasi. Apalagi, dengan pengembalian investasi belum bisa dipertanggungjawabkan.

“Pada akhirnya BUMN juga yang dikorbankan. Kita lihat sajalah, apakah proyek ini bisa berjalan atau tidak, kalau berjalan kita syukuri tapi kalau tidak ya pemerintah yang harus bertanggung jawab,” imbuhnya.

Wakil Ketua Komisi V DPR, Muhidin M Said menyebutkan, selama tak ada anggaran APBN dan pembangunan proyek kereta cepat melalui business to business akan lebih bagus. “Ya kalau tak ada anggaran APBN, ya itu bagus, silakan jalan. Penegasannya janngan ada anggaran APBN dalam proyek kereta cepat tersebut,” ucapnya.

Menurutnya, anggaran APBN sebaiknya hanya digunakan untuk pembangunan proyek atau rel kereta api yang ada di luar Pulau Jawa atau proyek kereta api yang secara ekonomis kurang layak. “Pada akhirnya, kalau ada kereta di lokasi baru terutama di luar pulau jawa, kita harapkan ada pertumbuhan baru di situ,” kata Muhidin.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan juga menegaskan bahwa kementeriannya hanya akan bertindak selaku regulator menyikapi rencana proyek kereta cepat melalui konsorsium yang dipimpin PT Wijaya Karya bersama tiga BUMN.

Dia beralasan bahwa skema proyek kereta cepat tersebut tak menyentuh ranah regulator, sebab tanpa memanfaatkan anggaran negara atau melalui skema business to busines. (Baca: Jonan Persilakan Swasta Ikut Proyek Kereta Cepat)

“Yang jelas saya di Kementerian Perhubungan hanya akan bertindak sebagai regulator. Artinya, jika sesuai spesifikasi atau standar, termasuk dari sisi perizinan itu menjadi bagian kami,” pungkas Jonan.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Perbandingan Kereta...
Perbandingan Kereta Cepat Shanghai vs KCJB Indonesia, dari Kecepatan hingga Tarif
Naik Kereta Cepat Whoosh...
Naik Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung hanya Rp50 Ribu, Begini Caranya!
Revolusi Kereta Cepat...
Revolusi Kereta Cepat China: Melaju Secepat Pesawat, Lebih Baik dari Hyperloop Elon Musk
Whoosh, Kereta Cepat...
Whoosh, Kereta Cepat yang Membuat Kunjungan Wisatawan Bertambah
Kereta Hyperloop China...
Kereta Hyperloop China Pecahkan Rekor, Ditarget 2.000 Kpj dan Lebih Cepat dari Pesawat
Intip Spesifikasi Kereta...
Intip Spesifikasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh, Mampu Melesat 350 Km/jam
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
4 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
5 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
5 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
6 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
6 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
6 jam yang lalu
Infografis
Menkes: Laki-laki Celananya...
Menkes: Laki-laki Celananya Ukuran 33 Lebih Cepat Meninggal Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved