Menkeu Akui Kata-kata Bersayap Bikin Anggaran Bengkak

Selasa, 15 Desember 2015 - 00:39 WIB
Menkeu Akui Kata-kata...
Menkeu Akui Kata-kata Bersayap Bikin Anggaran Bengkak
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengakui penggunaan kata-kata bersayap atau tidak jelas (absurd) dalam kegiatan yang dicanangkan kementerian dan lembaga (K/L) berpotensi ‎membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membengkak dan tidak terkontrol.

Hal ini menanggapi instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta kepada seluruh K/L untuk memonitor setiap kegiatan dan mensortir kata-kata yang dipilih agar tidak bersayap dan rancu.

"Karena kadang kalau tidak jelas nilainya bisa enggak terkontrol. Kalau jelas barangnya, apa satuannya kan bisa dikontrol‎," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (14/12/2015).

Baca:
Larang Kata Bersayap di Proyek Pemerintah, Jokowi Sindir Susi
Jokowi Minta Para Menteri Tak Boros Kelola Anggaran

Dia menjelaskan, ‎jika masih dalam lingkup pemrograman maka kata-kata yang sifatnya umum dan tidak menjurus masih bisa digunakan. Namun, jika telah masuk satuan tiga dan menjurus kepada perumusan anggaran maka bahasanya harus jelas dan tidak bersayap.

"‎Kalau sudah level kegiatan tidak boleh lagi kata bersayap. Karena kegiatan itu harus clear. Apakah beli barang, bangun sesuatu. Jadi bahasanya harus langsung, satuannya berapa, besarannya berapa, totalnya berapa," terang Bambang.

Mantan Wamenkeu ini mencontohkan, kata-kata pemberdayaan nelayan yang sebelumnya digunakan dalam kegiatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak bisa lagi digunakan jika sudah masuk pada level satuan tiga. Pasalnya, kata-kata tersebut membingungkan dan membuatnya menjadi multitafsir.

"Yang presiden inginkan adalah pemberdayaan nelayan dihapus, tapi isinya misalkan membeli perahu, membeli jaring, umpan atau segala macam. Itu angkanya ada langsung. Mungkin jumlahnya sama Rp10 miliar, tapi jelas apa aktivitasnya daripada pakai kata bersayap," jelas Bambang.

Dia menambahkan, penghilangan kata-kata bersayap ini dimaksudkan agar setiap kegiatan dan anggaran yang dikeluarkan jelas peruntukannya. Bahkan, jika dimungkinkan program tersebut bisa diminimalisir‎ pengeluaran biayanya.

‎"Maksudnya biar jelas kalau mau belanja, belanja apa? Jangan belanja misalnya, kamu inginnya makan tapi bilangnya pemberdayaan saya supaya enggak mati kelaparan. Jelas saja kamu beli makan siang berapa rupiah. Beli makan malam berapa rupiah," tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ini Kerangka Rancangan...
Ini Kerangka Rancangan APBN 2021
Konferensi Pers APBN...
Konferensi Pers APBN Kita Kembali Ditunda, Ada Apa?
Sah, Laporan Pertanggungjawaban...
Sah, Laporan Pertanggungjawaban APBN 2019 Disetujui Banggar DPR
Kemenkeu Ungkap Alasan...
Kemenkeu Ungkap Alasan Pembekuan Anggaran Kementerian Rp50,2 Triliun
Sri Mulyani Blokir Anggaran...
Sri Mulyani Blokir Anggaran Kementerian dan Lembaga Rp50,2 Triliun, Ini Penjelasan Kemenkeu
APBN 2020 Direvisi,...
APBN 2020 Direvisi, Belanja Kementerian dan Lembaga Dipotong Rp50 Triliun
Berita Terkini
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
9 menit yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
23 menit yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
9 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
10 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
11 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
13 jam yang lalu
Infografis
Rusia Akui Kerahkan...
Rusia Akui Kerahkan Tentara Korut dalam Perang Lawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved