Menko Darmin Pede Investor Tertarik Bangun Kilang di RI
Senin, 21 Desember 2015 - 23:26 WIB
Menko Darmin Pede Investor Tertarik Bangun Kilang di RI
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution percaya diri (pede) investor akan tertarik membangun kilang di dalam negeri, meskipun harga minyak dunia tengah mengalami penurunan signifikan.
Dia mengatakan, pembangunan kilang adalah investasi besar dan jangka panjang. Kendati harga minyak tengah anjlok, namun investor mengambil keputusan untuk puluhan tahun ke depan.
"Nanti dulu, ini jangka panjang. Orang tidak akan mengambil keputusan dengan situasi tahun ini dalam persoalan bisnis jangka panjang. Orang berhitung 10, 20, 30 tahun ke depan," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/12/2015).
Bahkan, sambung mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, saat harga minyak sedang jatuh juga belum tentu investor tidak tertarik membangun kilang. Pasalnya, ada beberapa negara penghasil crude oil yang kehilangan pasar dan dapat dimanfaatkan.
"Kalau‎ kamu bilang harga (minyak) lagi jatuh, belum tentu orang tertarik. Justru bisa juga sebalikanya. Ceritanya, ada beberapa negara penghasil crude oil tiba-tiba sekarang enggak ada pasar, karena harganya sedang turun. Kalau dia sekalian bangun dan dia kirim terus kesitu, dia untung dua kali," tandas Darmin.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan peraturan presiden (perpres) tentang percepatan pembangunan kilang minyak di dalam negeri kini telah di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Perpres tersebut tinggal menunggu pengesahan hingga akhirnya dikeluarkan nanti.
Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk membangun ketahanan energi, melalui percepatan pembangunan kilang yang menjadi salah satu poin dalam paket kebijakan ekonomi jilid VIII. "Perpres (pembangunan kilang) sudah disiapkan. Sudah naik ke bapak presiden," katanya.
Pramono menyebutkan, saat ini Indonesia memiliki empat kilang minyak dengan total kapasitas 900.000 barel per hari (bph). Dia berharap, dengan dikeluarkannya perpres tersebut akan dapat merealisasikan pembangunan kilang minimal dua unit.
"Lifting kita juga kurang lebih seperti itu, maka dengan adanya paket kebijakan ini diharapkan dalam waktu dekat akan bisa dibangun dua atau maksimum, bukan maksimum, dua, tiga dan seterusnya," imbuhnya.
Politisi PDI-Perjuangan ini menambahkan, dua kilang yang akan menjadi prioritas pemerintah untuk dapat segera dibangun terdapat di Bontang, Kalimantan Timur dan Tuban, Jawa Timur. Dua kilang ini diharapkan dapat menambah kapasitas kilang minyak yang ada di dalam negeri.
Dia mengatakan, pembangunan kilang adalah investasi besar dan jangka panjang. Kendati harga minyak tengah anjlok, namun investor mengambil keputusan untuk puluhan tahun ke depan.
"Nanti dulu, ini jangka panjang. Orang tidak akan mengambil keputusan dengan situasi tahun ini dalam persoalan bisnis jangka panjang. Orang berhitung 10, 20, 30 tahun ke depan," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/12/2015).
Bahkan, sambung mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, saat harga minyak sedang jatuh juga belum tentu investor tidak tertarik membangun kilang. Pasalnya, ada beberapa negara penghasil crude oil yang kehilangan pasar dan dapat dimanfaatkan.
"Kalau‎ kamu bilang harga (minyak) lagi jatuh, belum tentu orang tertarik. Justru bisa juga sebalikanya. Ceritanya, ada beberapa negara penghasil crude oil tiba-tiba sekarang enggak ada pasar, karena harganya sedang turun. Kalau dia sekalian bangun dan dia kirim terus kesitu, dia untung dua kali," tandas Darmin.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan peraturan presiden (perpres) tentang percepatan pembangunan kilang minyak di dalam negeri kini telah di tangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Perpres tersebut tinggal menunggu pengesahan hingga akhirnya dikeluarkan nanti.
Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk membangun ketahanan energi, melalui percepatan pembangunan kilang yang menjadi salah satu poin dalam paket kebijakan ekonomi jilid VIII. "Perpres (pembangunan kilang) sudah disiapkan. Sudah naik ke bapak presiden," katanya.
Pramono menyebutkan, saat ini Indonesia memiliki empat kilang minyak dengan total kapasitas 900.000 barel per hari (bph). Dia berharap, dengan dikeluarkannya perpres tersebut akan dapat merealisasikan pembangunan kilang minimal dua unit.
"Lifting kita juga kurang lebih seperti itu, maka dengan adanya paket kebijakan ini diharapkan dalam waktu dekat akan bisa dibangun dua atau maksimum, bukan maksimum, dua, tiga dan seterusnya," imbuhnya.
Politisi PDI-Perjuangan ini menambahkan, dua kilang yang akan menjadi prioritas pemerintah untuk dapat segera dibangun terdapat di Bontang, Kalimantan Timur dan Tuban, Jawa Timur. Dua kilang ini diharapkan dapat menambah kapasitas kilang minyak yang ada di dalam negeri.
(dmd)
Lihat Juga :