Belum Ada Opsi Kuat Warga Memilih Angkutan Umum
Senin, 28 Desember 2015 - 07:16 WIB
Belum Ada Opsi Kuat Warga Memilih Angkutan Umum
A
A
A
JAKARTA - Pengamat transportasi dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gajah Mada (UGM), Iwan Puja Riadi mengemukakan, kondisi kemacetan yang terjadi di Jakarta menuju luar kota lebih disebabkan pilihan rasional masyarakat. Dia beralasan, belum ada opsi yang menguatkan warga memilih angkutan umum dibanding angkutan pribadi.
"Kalau saya memilih angkutan umum trannsportasi massal seperti kereta api misalnya, pada kondisi tertentu harganya cukup mahal. Sementara saya berpergian dengan keluarga, saya punya mobil. Tentu secara ekonomi saya memilih naik kendaraan pribadi," ujarnya, Minggu (27/12/2015).
Menurutnya, permasalahan kemacetan, bukan hanya terletak pada angkutan barang atau angkutan berat di jalan tol maupun jalan raya saja. Namun lebih dari itu, pemerintah belum mampu memberikan pilihan transportasi yang memadai.
Dia juga menggarisbawahi, bahwa tanggung jawab tersebut bukan hanya terletak pada satu institusi saja, namun melibatkan banyak pihak terutama di daerah.
"Kalau dari Jakarta menuju Bandung misalnya, saya menggunakan kereta ada yang murah, tapi ketika saya sudah di Bandung, apakah ada transportasi umum yang memadai menampung saya dan keluarga ke tempat-tempat liburan. Itu berarti, permasalahan ini bukan hanya ada di pusat, namun eksekusinya ada di daerah," pungkasnya.
Baca juga:
Alasan Dirjen Perhubungan Darat Mengundurkan Diri
Pengusaha Pertanyakan Larangan Truk Beroperasi di Tahun Baru
"Kalau saya memilih angkutan umum trannsportasi massal seperti kereta api misalnya, pada kondisi tertentu harganya cukup mahal. Sementara saya berpergian dengan keluarga, saya punya mobil. Tentu secara ekonomi saya memilih naik kendaraan pribadi," ujarnya, Minggu (27/12/2015).
Menurutnya, permasalahan kemacetan, bukan hanya terletak pada angkutan barang atau angkutan berat di jalan tol maupun jalan raya saja. Namun lebih dari itu, pemerintah belum mampu memberikan pilihan transportasi yang memadai.
Dia juga menggarisbawahi, bahwa tanggung jawab tersebut bukan hanya terletak pada satu institusi saja, namun melibatkan banyak pihak terutama di daerah.
"Kalau dari Jakarta menuju Bandung misalnya, saya menggunakan kereta ada yang murah, tapi ketika saya sudah di Bandung, apakah ada transportasi umum yang memadai menampung saya dan keluarga ke tempat-tempat liburan. Itu berarti, permasalahan ini bukan hanya ada di pusat, namun eksekusinya ada di daerah," pungkasnya.
Baca juga:
Alasan Dirjen Perhubungan Darat Mengundurkan Diri
Pengusaha Pertanyakan Larangan Truk Beroperasi di Tahun Baru
(dmd)
Lihat Juga :