Wall Street Merosot ke Level Terendah, Saham Energi Jatuh

Kamis, 07 Januari 2016 - 09:04 WIB
Wall Street Merosot...
Wall Street Merosot ke Level Terendah, Saham Energi Jatuh
A A A
NEW YORK - Indeks saham Wall Street makin melemah ke level terendah sejak awal Oktober lalu, pada penutupan kemarin waktu setempat. Merosotnya pasar saham Amerika Serikat (AS) itu, lantaran terbebani pelemahan ekonomi China yang dikhawatirkan berdampak pada melambatnya pertumbuhan global ketika harga saham energi jatuh diikuti harga minyak.

Dilansir Reuters, Kamis (7/1/2016) saham minyak utama seperti Exxon (XOM.N) dan Chevron (CVX.N) tidak terkecuali mengalami kejatuhan dengan mayoritas sektor energi melemah. SPNY turun 3,6 persen saat harga minyak mentah dunia jatuh di bawah USD35 per barel.

Sementara saham Apple (AAPL.O) menurun hingga di bawah USD100 untuk pertama kalinya dalam hampir lima bulan setelah laporan melambatnya produksi iPhone 6S dan 6S. Pada akhir perdagangan, saham Apple turun sebesar 2,0% di level USD100.70.

Perlambatan ekonomi China memicu penurunan di pasar ekuitas global untuk membuat indeks Dow Jones mencetak rekor terburuk sejak 2008 silam di awal pekan kemarin. Bank Rakyat China dikabarkan terus berupaya menguatkan mata uang Yuan, meski sejauh ini belum berbuah hasil positif.

"Pengaruh terbesar yang terus menjadi keprihatinan adalah tentang apa yang terjadi di China. Saya pikir ada teori bahwa akan terjadi melambatnya ekonomi global didorong oleh penurunan besar di China," jelas Kepala Investasi Wedbush Equity Management LLC, Stephen Massocca.

Kondisi pelemahan bursa Asia semakin diperparah kondisi geopolitik yang memanas setelah Korea Utara mengumumkan telah berhasil melakukan uji coba bom hidrogen untuk membuat investor cemas. Dow Jones industrial average berakhir turun 252,15 poin atau 1,47% ke posisi 16.906,51.

Sedangkan S & P 500 melemah 26,45 poin atau 1,31% ke level 1.990,26 dan komposit Nasdaq menyusut 55,67 poin atau 1,14%, ke posisi 4.835,77. "Kami belum melihat tanda-tanda adanya penurunan tajam volume sehingga membuat banyak orang panik," jelas Ahli Strategi Revere Securities Corp, Scott Fullman.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Bangkit...
Wall Street Bangkit Ditopang Dua Raksasa Teknologi
Ditopang Saham-saham...
Ditopang Saham-saham Bank, Wall Street Dibuka Naik
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Berita Terkini
Garuda Terapkan Bagasi...
Garuda Terapkan Bagasi Piece Concept, Bawaan Penumpang Bisa hingga 64 Kg
39 menit yang lalu
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
1 jam yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
3 jam yang lalu
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
4 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
6 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
7 jam yang lalu
Infografis
Waspada! Ini Gejala...
Waspada! Ini Gejala Super Flu yang Masuk ke Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved