Harga Saham Dinilai Kemahalan, Ini Jawaban Freeport
Senin, 18 Januari 2016 - 10:41 WIB
Harga Saham Dinilai Kemahalan, Ini Jawaban Freeport
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara PT Freeport Indonesia Riza Pratama menerangkan bahwa harga penawaran saham yang diajukan pihaknya telah berdasarkan analisis dan penilaian yang terbuka dari perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut. Pernyataan ini merupakan jawaban, setelah beberapa kalangan menilai harga yang ditawarkan Freeport terlalu mahal.
(Baca Juga: Menteri Rini Ngebet BUMN Serap Saham Freeport 30%)
Seperti diketahui untuk melaksanakan kewajiban divestasinya di Tanah Air, Freeport melepas saham sebesar 10,64% senilai USD1,7 miliar atau setara Rp23,5 triliun (rupiah Rp13.800/USD). Sayangnya harga yang ditawarkan perusahaan tambang asal AS itu dinilai terlalu mahal, mengingat harga batubara di pasar global yang kini tengah mengalami penurunan.
"The value of the divested shares in PTFI is based on a fair value analysis of the company (nilai dan harga yang didivestasikan PTFI berdasarkan pada analisis nilai yang dilakukan oleh perusahaan," katanya kepada Sindonews di Jakarta, Senin (18/1/2016).
Sementara itu Dia enggan menanggapi lebih jauh komentar sejumlah pihak yang menyatakan bahwa penawaran harga tersebut terlalu mahal. "Kita tunggu saja evaluasi dari pemerintah," tandasnya.
(Baca Juga: Freeport Tawarkan Saham Rp23,5 Triliun ke Pemerintah)
Seperti diberitakan sebelumnya, Energy Watch Indonesia menilai harga 10,64% saham yang ditawarkan PT Freeport Indonesia dalam rangka kewajiban divestasinya tersebut tidak masuk akal. Sebab, harga sebesar USD1,7 miliar itu terlalu tinggi untuk harga saham Freeport yang sedang jatuh di bursa saham dunia.
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean mengatakan, saham Freeport McMoran di bursa saham global turun lebih dari 20% hingga menjadi USD4 per saham. Sehingga, untuk 10,64% saham tersebut harganya hanya sekitar USD500 juta.
"Kita minta pada pemerintah mengevaluasi dan kalau perlu menolak. Karena tidak masuk akal bahkan terlalu tinggi. Saham Freeport itu turun 20% lebih ke USD4 per saham," ucapnya akhir pekan kemarin.
(Baca Juga: Menteri Rini Ngebet BUMN Serap Saham Freeport 30%)
Seperti diketahui untuk melaksanakan kewajiban divestasinya di Tanah Air, Freeport melepas saham sebesar 10,64% senilai USD1,7 miliar atau setara Rp23,5 triliun (rupiah Rp13.800/USD). Sayangnya harga yang ditawarkan perusahaan tambang asal AS itu dinilai terlalu mahal, mengingat harga batubara di pasar global yang kini tengah mengalami penurunan.
"The value of the divested shares in PTFI is based on a fair value analysis of the company (nilai dan harga yang didivestasikan PTFI berdasarkan pada analisis nilai yang dilakukan oleh perusahaan," katanya kepada Sindonews di Jakarta, Senin (18/1/2016).
Sementara itu Dia enggan menanggapi lebih jauh komentar sejumlah pihak yang menyatakan bahwa penawaran harga tersebut terlalu mahal. "Kita tunggu saja evaluasi dari pemerintah," tandasnya.
(Baca Juga: Freeport Tawarkan Saham Rp23,5 Triliun ke Pemerintah)
Seperti diberitakan sebelumnya, Energy Watch Indonesia menilai harga 10,64% saham yang ditawarkan PT Freeport Indonesia dalam rangka kewajiban divestasinya tersebut tidak masuk akal. Sebab, harga sebesar USD1,7 miliar itu terlalu tinggi untuk harga saham Freeport yang sedang jatuh di bursa saham dunia.
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean mengatakan, saham Freeport McMoran di bursa saham global turun lebih dari 20% hingga menjadi USD4 per saham. Sehingga, untuk 10,64% saham tersebut harganya hanya sekitar USD500 juta.
"Kita minta pada pemerintah mengevaluasi dan kalau perlu menolak. Karena tidak masuk akal bahkan terlalu tinggi. Saham Freeport itu turun 20% lebih ke USD4 per saham," ucapnya akhir pekan kemarin.
(akr)
Lihat Juga :