Soal Harga BBM, Indef Sebut Pertamina Tak Terbuka
Kamis, 21 Januari 2016 - 22:42 WIB
Soal Harga BBM, Indef Sebut Pertamina Tak Terbuka
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati menilai PT Pertamina (Persero) meraup keuntungan sangat besar dari penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi baik jenis premium maupun solar.
"Masalah utama penjualan BBM oleh Pertamina yang lebih mahal ini karena mereka tidak pernah terbuka. Berapa cost-nya dan berapa untungnya. Jadi ini keterlaluan, Pertamina jual BBM di SPBU malah mahal, sementara yang dijual di perusahaan harga BBM-nya ada potensi untuk dijual lebih murah," jelasnya di Jakarta, Kamis (21/1/2016).
(Baca Juga: Pertamina Dituding Tahan Harga BBM Saat Minyak Dunia Ambruk)
Dia menerangkan harga murah yang diterima oleh perusahaan, selain harga minyak dunia yang sedang anjlok juga disebabkan tidak adanya bea masuk membeli dari negara tetangga. Lantaran berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), semua produk dari negara ASEAN lain termasuk minyak tidak lagi dikenai bea masuk.
"Sekarang ketika harga minyak dunia anjlok, potensi kebocoran minyak di tengah jalan untuk dikirim ke luar juga kecil karena memang harganya sedang turun," sambungnya
Menurut Dia, untuk solar sendiri saat ini tidak lagi disubsidi karena harganya terus menurun. Tapi dijelaskannya terkadang Pertamina dan juga pemerintah lambat melakukan penurunan ketika harga minyak dunia terus merosot. Berbeda jika harga minyak dunia naik malah cepat merespon untuk segera naik.
"Pemerintah dan Pertamina tidak tegas mengatur penurunan harga. Padahal kita sudah tidak lagi disubsidi. Apalagi minyak terus melorot di bawah USD40 per barel. Angka itu jadi patokan asumsi pemerintah, jika di atas USD40 baru disubsidi," tandasnya.
"Masalah utama penjualan BBM oleh Pertamina yang lebih mahal ini karena mereka tidak pernah terbuka. Berapa cost-nya dan berapa untungnya. Jadi ini keterlaluan, Pertamina jual BBM di SPBU malah mahal, sementara yang dijual di perusahaan harga BBM-nya ada potensi untuk dijual lebih murah," jelasnya di Jakarta, Kamis (21/1/2016).
(Baca Juga: Pertamina Dituding Tahan Harga BBM Saat Minyak Dunia Ambruk)
Dia menerangkan harga murah yang diterima oleh perusahaan, selain harga minyak dunia yang sedang anjlok juga disebabkan tidak adanya bea masuk membeli dari negara tetangga. Lantaran berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), semua produk dari negara ASEAN lain termasuk minyak tidak lagi dikenai bea masuk.
"Sekarang ketika harga minyak dunia anjlok, potensi kebocoran minyak di tengah jalan untuk dikirim ke luar juga kecil karena memang harganya sedang turun," sambungnya
Menurut Dia, untuk solar sendiri saat ini tidak lagi disubsidi karena harganya terus menurun. Tapi dijelaskannya terkadang Pertamina dan juga pemerintah lambat melakukan penurunan ketika harga minyak dunia terus merosot. Berbeda jika harga minyak dunia naik malah cepat merespon untuk segera naik.
"Pemerintah dan Pertamina tidak tegas mengatur penurunan harga. Padahal kita sudah tidak lagi disubsidi. Apalagi minyak terus melorot di bawah USD40 per barel. Angka itu jadi patokan asumsi pemerintah, jika di atas USD40 baru disubsidi," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :