The Fed Putuskan Bakal Kembali Naikkan Suku Bunga
Rabu, 30 Maret 2016 - 09:16 WIB
The Fed Putuskan Bakal Kembali Naikkan Suku Bunga
A
A
A
NEW YORK - Ketua The Fed (Bank Sentral AS), Janet Yellen mengatakan akan kembali melanjutkan kenaikan suku bunga acuan AS (Fed rate) secara hati-hati, setelah sebelumnya beberapa pejabat The fed telah memberikan saran yang serupa. Sebelumnya The fed sempat memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, lantaran Yellen menilai inflasi belum terbukti kuat.
Apalagi menurutnya ekonomi AS masih rentan termasuk harga minyak mentah dunia yang tetap berada dalam tren penurunan serta merosotnya ekonomi terbesar kedua dunia yakni China. Namun penguatan saham dan obligasi membuat dan inflasi AS yang dinilai sehat mendorong pejabat Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan mereka.
"Mengingat risiko-risiko terhadap prospek, saya menganggap tepat bagi untuk Komite (FOMC) untuk melanjutkan dengan hati-hati dalam menyesuaikan kebijakan," kata Yellen dalam pidatonya di Economic Club of New York, seperti dilansir Reuters, Rabu (30/3/2016).
Pada pertemuan terkait keputusan pengambilan kebijakan di Maret, The Fed menerangkan perlambatan luar negeri dan gejolak pasar modal di awal tahun memberikan jeda untuk mengencangkan kebijakan. Pada saat itu pejabat The Fed menurunkan harapan terkait kebijakan suku bunga yang awalnya dijadwalkan secara bertahap naik tahun ini.
Yellen percaya bahwa jalan suku bunga federal fund mendatang tentu tidak pasti, karena kegiatan ekonomi dan inflasi kemungkinan akan berkembang dalam cara yang tak terduga. Seperti diketahui harga minyak yang rendah juga mengakibatkan PHK besar-besaran di sektor energi dan merugikan produksi serta kesempatan kerja di industri yang mendukung produksi energi.
Dalam menanggapi komentar Yellen di Economic Club of New York, dolar Amerika Serikat (USD) tercatat turun sementara ekuitas dan emas pulih. Sedangkan inflasi AS menunjukkan perbaikan yang mendatar di 1,7% pada bulan Februari, meski masih di bawah target 2%. The Fed menerangkan masih akan mengawasi perkembangan yang terjadi sebelum menetapkan keputusan.
Apalagi menurutnya ekonomi AS masih rentan termasuk harga minyak mentah dunia yang tetap berada dalam tren penurunan serta merosotnya ekonomi terbesar kedua dunia yakni China. Namun penguatan saham dan obligasi membuat dan inflasi AS yang dinilai sehat mendorong pejabat Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan mereka.
"Mengingat risiko-risiko terhadap prospek, saya menganggap tepat bagi untuk Komite (FOMC) untuk melanjutkan dengan hati-hati dalam menyesuaikan kebijakan," kata Yellen dalam pidatonya di Economic Club of New York, seperti dilansir Reuters, Rabu (30/3/2016).
Pada pertemuan terkait keputusan pengambilan kebijakan di Maret, The Fed menerangkan perlambatan luar negeri dan gejolak pasar modal di awal tahun memberikan jeda untuk mengencangkan kebijakan. Pada saat itu pejabat The Fed menurunkan harapan terkait kebijakan suku bunga yang awalnya dijadwalkan secara bertahap naik tahun ini.
Yellen percaya bahwa jalan suku bunga federal fund mendatang tentu tidak pasti, karena kegiatan ekonomi dan inflasi kemungkinan akan berkembang dalam cara yang tak terduga. Seperti diketahui harga minyak yang rendah juga mengakibatkan PHK besar-besaran di sektor energi dan merugikan produksi serta kesempatan kerja di industri yang mendukung produksi energi.
Dalam menanggapi komentar Yellen di Economic Club of New York, dolar Amerika Serikat (USD) tercatat turun sementara ekuitas dan emas pulih. Sedangkan inflasi AS menunjukkan perbaikan yang mendatar di 1,7% pada bulan Februari, meski masih di bawah target 2%. The Fed menerangkan masih akan mengawasi perkembangan yang terjadi sebelum menetapkan keputusan.
(akr)
Lihat Juga :