Tanggapan Indef Soal Posisi Investasi Internasional RI

Minggu, 03 April 2016 - 18:27 WIB
Tanggapan Indef Soal...
Tanggapan Indef Soal Posisi Investasi Internasional RI
A A A
JAKARTA - Institute Development of Economic and Finance (Indef) menilai terkait kenaikan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dari Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) sebagaimana dilaporkan Bank Indonesia (BI).

Menurut ekonom Indef Dzulfian S, investor asing mulai kembali menanamkan modalnya di Indonesia. Berbanding terbalik dengan beberapa tahun belakangan di mana Indonesia berada di bawah bayang-bayang larinya modal ke luar (capital outflow) dan tahun ini justru terjadi pemasukan modal (capital inflow).

Capital inflow saat ini di Indonesia setidaknya disebabkan dua hal utama Kepastian kenaikan suku bunga the Fed (Fed Fund Rate/FFR) beberapa bulan lalu yang membuat pasar-pasar keuangan di dunia (termasuk Indonesia) menjadi lebih stabil dan pasti.

"Dan kebijakan suku bunga negatif yang diterapkan negara-negara maju, khususnya Jepang dan negara-negara Eropa yang menyebabkan investor asing menarik uangnya di Eropa dan ditanamkan di negara-negara yang lebih menguntungkan, seperti Indonesia," terang dia saat dihubungi, Minggu (3/4/2016).

Sayangnya, lanjut dia, modal yang masuk ke Indonesia masih bersifat 'hot money'. Salah satu instrumen yang paling digemari investor asing berinvestasi di Indonesia adalah obligasi atau surat utang pemerintah karena imbal hasil (yield) yang ditawarkan sangat tinggi berkisar 6%-8%.

Tingginya modal asing yang masuk ke obligasi pemerintah ini harus diwaspadai oleh pemerintah. Karena, jika terjadi penarikan modal secara tiba-tiba (sudden revearsal), hal ini akan kontraproduktif bagi perekonomian nasional khususnya sektor keuangan.

"Mengingat sekitar 40% obligasi pemerintah dan 60% pasar modal Indonesia dimiliki investor asing," ujar Dzul.

Mahalnya imbal hasil obligasi pemerintah ini menunjukkan bahwa kepercayaan (confidence) investor terhadap Indonesia itu cukup rendah, sehingga para investor meminta kompensasi (premi resiko) yang tinggi.

Dia menilai, apa yang dilakukan 'lapangan banteng' dan 'Thamrin' sejauh ini tidak sinkron, ditunjukkan oleh masih tingginya imbal hasil yang ditawarkan obligasi pemerintah. Ini tidak sejalan dengan kebijakan moneter yang dilakukan BI dalam beberapa bulan terakhir yang cenderung ekspansif dengan memotong BI rate beberapa kali.

Seharusnya, obligasi pemerintah dapat turun perlahan sebagaimana BI rate, misalkan untuk tenor 10 tahun bisa turun perlahan ke level 7,0%-7,5%, bahkan bisa lebih rendah lagi jika pemerintah mampu meyakinkan dan meningkatkan kepercayaan investor.

Jika pemerintah tidak segera menurunkan imbal hasil obligasinya, dikhawatirkan justru akan terjadi kekeringan likuiditas di pasar keuangan kita karena bank-bank harus berkompetisi dengan obligasi pemerintah yang justru akan kontraproduktif bagi perekonomian nasional.

"Minimal kebijakan moneter ekspansif yang telah dilakukan oleh BI tidak akan efektif," pungkas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Ekonomi RI 2024 Ditargetkan...
Ekonomi RI 2024 Ditargetkan Tumbuh 5,7%, Butuh Investasi Rp1.650 Triliun
Investasi Kunci Bangkitnya...
Investasi Kunci Bangkitnya Ekonomi RI di 2021
Berat! RI Butuh Investasi...
Berat! RI Butuh Investasi Rp5.912 Triliun Agar Ekonomi Tumbuh 5,5%
Ekonomi Tumbuh, Wapres...
Ekonomi Tumbuh, Wapres Ingatkan Investasi Harus Bisa Tampung Tenaga Kerja
Investasi dan Ekspor...
Investasi dan Ekspor Kunci Ekonomi RI, Jokowi Minta Ini ke Bupati
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
5 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
6 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
6 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
7 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
7 jam yang lalu
Infografis
7 Kolonel TNI AL Pecah...
7 Kolonel TNI AL Pecah Bintang, Ada Dankopaska Koarmada RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved