Panama Papers Puncak Gunung Es Masalah Pajak

Sabtu, 09 April 2016 - 14:02 WIB
Panama Papers Puncak...
Panama Papers Puncak Gunung Es Masalah Pajak
A A A
JAKARTA - Bocornya data Panama Papers dinilai sebagai puncak gunung es dari semua masalah perpajakan yang ada di dunia, termasuk Indonesia.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation (CITA), Yustinus Prastowo mengatakan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak perlu menguji terkait nama orang Indonesia yang masuk dalam Panama Papers melanggar aturan atau tidak.

(Baca: Ditjen Pajak Klaim Ada Kesamaan Data Pemerintah dan Panama Papers)

"Jika ada, maka itu bisa diindikasikan termasuk praktik tax evasion dan dapat dikenakan sanksi. Saya kira Panama Papers adalah puncak gunung es dari segala permasalahan pajak di dunia, termasuk di Indonesia," ujarnya di Jakarta, Sabtu (9/4/2016).

Cara lainnya, kata dia, dengan mengidentifikasi ada tidaknya aktivitas bisnis yang dilakukan di tax haven countries (negara surga pajak) tersebut.

Dia mengungkapkan, ada 3 kelompok perusahaan yang terkait dokumen Panama Papers. Pertama, murni untuk melakukan aksi korporasi dengan mendirikan perusahaan di negara surga pajak untuk keperluan menjual obligasi, membeli saham, atau melakukan ekspansi bisnis.

"Pertama untuk aksi korporasi, di mana mereka (pengusaha) menikmati administrasi, kerahasian dan juga mengantisipasi kebangkrutan," jelasnya.

Kedua, pendirian perusahaan di negara surga pajak untuk menyembunyikan aset hasil bisnis ilegal seperti korupsi.

"Ini adalah modus dari pengusaha untuk merahasiakan uang mereka di tax haven. Banyak pengusaha, politikus, dan pejabat menyimpan uangnya di sana karena enggak mau bayar pajak," tuturnya.

Ketiga, dengan tujuan menghindari pajak. "Sehingga perusahaan dapat lebih efisien karena membayar dengan jumlah lebih rendah.”

Panama Papers adalah sebutan terkait bocornya data ribuan klien perusahaan pengelola investasi asal Panama, Mossack Fonseca. Jutaan dokumen itu memuat mengenai individu dan entitas bisnis yang memanfaatkan perusahaan offshore untuk menghindari pajak dan melakukan pencucian uang.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Siapa di Balik Geger...
Siapa di Balik Geger Pandora Papers?
Indonesia Sedang Demam...
Indonesia Sedang Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Buntut Pandora Papers,...
Buntut Pandora Papers, Jaksa Chile Akan Selidiki Presiden Pinera
Penggelapan Uang Pajak...
Penggelapan Uang Pajak di Samsat, Kantor Bapenda Banten Digeledah Kejati
Makan Uang Perusahaan...
'Makan' Uang Perusahaan Ratusan Juta, Sales Diciduk Polres Kobar
Kasus Dugaan Penggelapan...
Kasus Dugaan Penggelapan BPHTB dan Pajak Pembelian Tanah Berakhir Damai
Berita Terkini
Rupiah Ambruk Dekati...
Rupiah Ambruk Dekati Rp18.000, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa
18 menit yang lalu
Neraca Dagang Defisit...
Neraca Dagang Defisit Perdana usai 72 Bulan Surplus, Ini Biang Keladinya
40 menit yang lalu
Digitalisasi Kunci Kecepatan...
Digitalisasi Kunci Kecepatan Jasa Raharja Cairkan Santunan Korban Kecelakaan
1 jam yang lalu
Indonesia-Belarus Bidik...
Indonesia-Belarus Bidik Peningkatan Perdagangan dan Investasi Bilateral
2 jam yang lalu
DJP Targetkan Pajak...
DJP Targetkan Pajak Digital Melonjak Dua Kali Lipat, dari Marketpalce Rp24 Triliun
2 jam yang lalu
Sah, 4 Marketplace Ini...
Sah, 4 Marketplace Ini Resmi Pungut Pajak PPh 22
2 jam yang lalu
Infografis
Inilah Bupati Pati yang...
Inilah Bupati Pati yang Diprotes Warganya karena Naikkan Pajak 250%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved