Ekspansi ke Timor Leste, Nilai Proyek WIKA Capai USD145 Juta
Kamis, 28 April 2016 - 22:10 WIB
Ekspansi ke Timor Leste, Nilai Proyek WIKA Capai USD145 Juta
A
A
A
JAKARTA - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) akan menggarap proyek senilai USD145 juta atau setara dengan Rp1,9 triliun triliun di Timor Leste dan menjadi yang terbesar dibandingkan proyek lain pada sejumlah negara seperti Malaysia, Myanmar, Aljazair dan Arab Saudi. Proyek tersebut termasuk kontrak baru pembangunan bandar udara hingga pembangunan jembatan.
"Paling besar di Timor Leste. Proyek bandara kontrak awal USD80 juta, ada addendum USD40 juta jadi USD120 juta. Kemudian ada dua jembatan yang nilainya kira-kira USD25 juta," ucap Direktur Keuangan WIKA Adji Firmantoro di Jakarta, Kamis (28/4/2016).
Dia juga menambahkan perusahaan sedang menjajaki pembangunan proyek lain senilai USD500 juta-USD700 juta. "Tahun ini ada sasaran di sana nilainya USD500 juta-USD700 juta dalam upaya perolehan, mudah-mudahan masuk ini," katanya.
Lanjut dia WIKA membidik kontribusi dari proyek di luar negeri sebanyak 5% sampai 10%, meski begitu Badan usaha milik negara (BUMN) itu menegaskan masih mengutamakan pengerjaan proyek di Tanah Air.
"Kita ke luar negeri pilih-pilih cari cashflow kuat karena di sini proyek banyak, tenaga enginerring di lapangan juga kurang. Tiap tahun 300 enginerring baru dan hijack yang berpengalaman ada 100-an orang," pungkasnya.
"Paling besar di Timor Leste. Proyek bandara kontrak awal USD80 juta, ada addendum USD40 juta jadi USD120 juta. Kemudian ada dua jembatan yang nilainya kira-kira USD25 juta," ucap Direktur Keuangan WIKA Adji Firmantoro di Jakarta, Kamis (28/4/2016).
Dia juga menambahkan perusahaan sedang menjajaki pembangunan proyek lain senilai USD500 juta-USD700 juta. "Tahun ini ada sasaran di sana nilainya USD500 juta-USD700 juta dalam upaya perolehan, mudah-mudahan masuk ini," katanya.
Lanjut dia WIKA membidik kontribusi dari proyek di luar negeri sebanyak 5% sampai 10%, meski begitu Badan usaha milik negara (BUMN) itu menegaskan masih mengutamakan pengerjaan proyek di Tanah Air.
"Kita ke luar negeri pilih-pilih cari cashflow kuat karena di sini proyek banyak, tenaga enginerring di lapangan juga kurang. Tiap tahun 300 enginerring baru dan hijack yang berpengalaman ada 100-an orang," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :