BI Perkirakan SSK Masih Banyak Tantangan
Senin, 30 Mei 2016 - 18:07 WIB
BI Perkirakan SSK Masih Banyak Tantangan
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia mengatakan, perkembangan Sistem Stabilitas Keuangan (SSK) di 2016 diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh berbagai tantangan, baik dari sisi eksternal maupun internal yang berpotensi mengganggu SSK.
Karena itu diperlukan strategi yang tepat dalam mengidentifikasi potensi risiko serta upaya mitigasinya. Di sisi eksternal, kondisi global yang berdampak pada SSK diantaranya pertumbuhan ekonomi dunia yang relatif stagnan, harga komoditas yang masih melemah, serta berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi China sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.
"Risiko perlambatan pertumbuhan kredit dan peningkatan NPL sebagai dampak dari penurunan harga komoditas tetap perlu diwaspadai," kata Gubernur BI, Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (30/5/2016).
Selain itu,harga komoditas juga diperkirakan belum akan menguat di 2016 sebagai akibat dari prospek ekonomi global, faktor penawaran-permintaan dan pengaruh geopolitik.
Menurut dia, tingginya downside risks mengacu pada tren pelemahan harga komoditas minyak dunia antara lain akibat penurunan permintaan dari Uni Eropa dan China.
Sementara penawaran minyak mentah diperkirakan cukup melimpah khususnya terkait dengan kebijakan pasokan dari negara Timur Tengah untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
"Di sisi lain, terdapat upside risk dari perbaikan kondisi ekonomi beberapa mitra dagang utama lainnya seperti AS dan India yang diharapkan berdampak positif pada kinerja ekspor Indonesia sehingga dapat mendorong pertumbuhan kredit pada 2016," tandasnya.
Karena itu diperlukan strategi yang tepat dalam mengidentifikasi potensi risiko serta upaya mitigasinya. Di sisi eksternal, kondisi global yang berdampak pada SSK diantaranya pertumbuhan ekonomi dunia yang relatif stagnan, harga komoditas yang masih melemah, serta berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi China sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia.
"Risiko perlambatan pertumbuhan kredit dan peningkatan NPL sebagai dampak dari penurunan harga komoditas tetap perlu diwaspadai," kata Gubernur BI, Agus Martowardojo di Jakarta, Senin (30/5/2016).
Selain itu,harga komoditas juga diperkirakan belum akan menguat di 2016 sebagai akibat dari prospek ekonomi global, faktor penawaran-permintaan dan pengaruh geopolitik.
Menurut dia, tingginya downside risks mengacu pada tren pelemahan harga komoditas minyak dunia antara lain akibat penurunan permintaan dari Uni Eropa dan China.
Sementara penawaran minyak mentah diperkirakan cukup melimpah khususnya terkait dengan kebijakan pasokan dari negara Timur Tengah untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
"Di sisi lain, terdapat upside risk dari perbaikan kondisi ekonomi beberapa mitra dagang utama lainnya seperti AS dan India yang diharapkan berdampak positif pada kinerja ekspor Indonesia sehingga dapat mendorong pertumbuhan kredit pada 2016," tandasnya.
(ven)
Lihat Juga :