Pasar Properti Menengah ke Atas Terpuruk

Senin, 01 Agustus 2016 - 14:15 WIB
Pasar Properti Menengah...
Pasar Properti Menengah ke Atas Terpuruk
A A A
JAKARTA - Pasar properti di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menengah ke atas mengalami keterpurukan. Tahun ini, bisnis properti untuk rumah seharga Rp700 juta ke atas mengalami penurunan hingga 50% dibanding tahun sebelumnya.

Perlambatan ekonomi yang terjadi serta beberapa kebijakan yang tidak memihak pada bisnis ini penyebab penurunan penjualan properti.

Wakil Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) bidang Humas, Ilham Nur Muhamad mengemukakan, bisnis properti menengah ke atas yang kini banyak digeluti pengembang yang tergabung dalam REI sedang lesu. Permintaan rumah dengan harga di atas Rp700 juta di wilayah Yogyakarta mengalami penurunan cukup drastis.

"Kebanyakan yang berminat rumah menengah ke atas itu orang luar DIY. Mereka ingin investasi di DIY karena magnetnya cukup bagus," ujarnya, Senin (1/8/2016).

Ilham mengatakan, penurunan ini imbas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. Pertumbuhan ekonomi yang melambat mengakibatkan penurunan kemampuan bayar dari masyarakat.

Beberapa kendala lain masih menghimpit calon konsumen mereka. Kendala yang biasanya dihadapi adalah meskipun kemampuan bayar bulanan seseorang itu tinggi, tetapi terkadang terkendala dengan pembayaran uang muka (DP).

Dia berharap dengan adanya kemudahan atau pelonggaran Loan to Value (LTV) untuk perumahan mengakibatkan bisnis ini kembali bergairah. Namun kelonggaran LTV tersebut belum berdampak di iklim bisnis properti di Yogyakarta.

Di satu sisi, para pelaku bisnis properti juga tidak bisa berbuat banyak untuk menekan harga jual rumah mereka. Sebab, masih ada kewajiban awal yang harus mereka selesaikan. Kewajiban membayar pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang masih tinggi. Saat ini, BPHTB yang masih harus ditanggung oleh konsumen ketika membeli rumah di kisaran 5%.

"Bayangkan, kalau harga Rp1 miliar maka BPHTB-nya mencapai Rp50 juta. Kalau diturunkan nanti akan bergairah lagi," paparnya.

Ilham mengatakan wacana pemerintah yang akan mengurangi atau bahkan menghilangkan BPHTB diharapkan bisa direalisasikan. BPHTB menjadi kendala dan banyak dikeluhkan calon konsumen.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Industri Properti Berikan...
Industri Properti Berikan Dampak Positif ke Pasar Gipsum
Dana Kurang, Tak Ada...
Dana Kurang, Tak Ada Salahnya Pakai Konsep Rumah Tumbuh
Persiapkan Modal Anda,...
Persiapkan Modal Anda, Bakal Ada Proyek Properti Menjanjikan
Geliatkan Industri,...
Geliatkan Industri, 1.000 Properti Akan Diluncurkan Serentak di 23 Kota se-Indonesia
Perkuat Modal Ekspansi...
Perkuat Modal Ekspansi Properti, Graha Agung Kencana Gandeng Salvatore Financial
7 Alasan Kenapa Harus...
7 Alasan Kenapa Harus Memilih Investasi Properti
Berita Terkini
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
34 menit yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
47 menit yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
10 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
12 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
13 jam yang lalu
Infografis
Gubernur DKI Dorong...
Gubernur DKI Dorong Pasar di Jakarta Lakukan Digitalisasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved