Bos BEI Cemaskan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III/2016
Rabu, 10 Agustus 2016 - 14:23 WIB
Bos BEI Cemaskan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III/2016
A
A
A
JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menerangkan pemangkasan anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L) yang akan dilakukan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) diyakini tidak memiliki dampak negatif ke pasar modal Indonesia. Kendati demikian, dia mengaku khawatir terhadap laju perekonomian kuartal III/2016.
(Baca Juga: Langkah Sri Mulyani Pangkas Anggaran Buka Lebar Peran Swasta)
Kekhawatiran tersebut muncul dari data yang mencatat ada pertumbuhan besar dalam pengeluaran terhadap rumah tangga dari yayasan non profit sebesar 7,8%. Sedangkan, pertumbuhan ekspor-impor dan pengeluaran rumah tangga merosot.
Dia mempertanyakan, jika peran yayasan tersebut sudah hilang pasca Hari Raya Idul Fitri. Pertumbuhan ekonomi nasional dikhawatirkan tidak bisa kembali di angka 5% seperti pada kuartal II/2016.
"Bayangin enggak, yayasan, organisasi, jadi bantuan ke masyarakat saat Lebaran mengalir ke bawah. Sehingga, pengeluaran masyarakat kayaknya enggak keluar padahal kita nikmati, contohnya mudik bebas, sembako bertebaran. Jadi, rakyat tetap bahagia, pengeluaran turun tapi spending yayasan banyak, saya jadi mempertanyakan kalau kuartal III enggak ada gini lagi, gimana?" jelas dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (10/8/2016).
Sementara itu dia mengakui pihak swasta bisa mengambil peran dari pemangkasan anggaran K/L, alasannya pemerintah membutuhkan dana infrastruktur. "Loh iya dong itu (swasta bisa ambil peran) kan perlu Rp313 triliun. Menurut saya, itu peran swasta," ujarnya.
Menurutnya, gagasan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani untuk memangkas anggaran sudah diperhitungkan. Target penerimaan yang terlalu optimis jadi salah satu alasannya. "Kan Bu Ani menganggap kita menganut defisit budget. Pada dasarnya, dalam hitungan Bu Ani menganggap ini terlalu optimis makanya dipangkas, wajar-wajar saja," sambung dia
Tito memandang jika ada pemangkasan anggaran, maka akan dipertimbangkan yang tidak ada efeknya ke pertumbuhan ekonomi. Seperti ongkos perjalanan dinas yang tidak perlu. "Kalau dipangkas pasti tidak ada dampaknya ke pertumbuhan. Spending seperti meeting di hotel jadi di kantor, tinggal gitu-gitu saja," tuturnya.
(Baca Juga: Langkah Sri Mulyani Pangkas Anggaran Buka Lebar Peran Swasta)
Kekhawatiran tersebut muncul dari data yang mencatat ada pertumbuhan besar dalam pengeluaran terhadap rumah tangga dari yayasan non profit sebesar 7,8%. Sedangkan, pertumbuhan ekspor-impor dan pengeluaran rumah tangga merosot.
Dia mempertanyakan, jika peran yayasan tersebut sudah hilang pasca Hari Raya Idul Fitri. Pertumbuhan ekonomi nasional dikhawatirkan tidak bisa kembali di angka 5% seperti pada kuartal II/2016.
"Bayangin enggak, yayasan, organisasi, jadi bantuan ke masyarakat saat Lebaran mengalir ke bawah. Sehingga, pengeluaran masyarakat kayaknya enggak keluar padahal kita nikmati, contohnya mudik bebas, sembako bertebaran. Jadi, rakyat tetap bahagia, pengeluaran turun tapi spending yayasan banyak, saya jadi mempertanyakan kalau kuartal III enggak ada gini lagi, gimana?" jelas dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (10/8/2016).
Sementara itu dia mengakui pihak swasta bisa mengambil peran dari pemangkasan anggaran K/L, alasannya pemerintah membutuhkan dana infrastruktur. "Loh iya dong itu (swasta bisa ambil peran) kan perlu Rp313 triliun. Menurut saya, itu peran swasta," ujarnya.
Menurutnya, gagasan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani untuk memangkas anggaran sudah diperhitungkan. Target penerimaan yang terlalu optimis jadi salah satu alasannya. "Kan Bu Ani menganggap kita menganut defisit budget. Pada dasarnya, dalam hitungan Bu Ani menganggap ini terlalu optimis makanya dipangkas, wajar-wajar saja," sambung dia
Tito memandang jika ada pemangkasan anggaran, maka akan dipertimbangkan yang tidak ada efeknya ke pertumbuhan ekonomi. Seperti ongkos perjalanan dinas yang tidak perlu. "Kalau dipangkas pasti tidak ada dampaknya ke pertumbuhan. Spending seperti meeting di hotel jadi di kantor, tinggal gitu-gitu saja," tuturnya.
(akr)
Lihat Juga :