Penjualan Pertalite Naik, Konsumsi Premium di DIY Turun
Minggu, 21 Agustus 2016 - 15:27 WIB
Penjualan Pertalite Naik, Konsumsi Premium di DIY Turun
A
A
A
YOGYAKARTA - Konsumsi Bahan Bakar Khusus (BBK) di Jawa Tengah dan DIY sudah menunjukkan peningkatan meski terkesan melamban. Gerakan menambah jumlah outlet penjualan pertalite akhir Juli serta larangan penjualan premium dengan jerigen di SPBU membuat laju penjualan pertalite terus bertambah.
General Manager PT Pertamina Marketing Operational Region (MOR) IV, Kusnendar mengakui sementara ini penetrasi produk BBK di Jawa bagian tengah masih kalah dengan produk pertamina lain. Bahkan, jika dibanding Jawa Timur dan Jawa Barat Pertamina MOR IV di Lebaran kemarin penjualan premium masih sebesar 71% dari total penjualan bahan bakar di SPBU seluruh Jateng dan DIY.
Sementara, Jatim dan Jabar cukup bagus. "Jawa Timur sudah 41% sementara Jawa Barat 58%," tuturnya saat penyerahan bantuan kepada siswa SD Payungan, Bantul, Minggu (21/8/2016).
Menurutnya, salah satu hambatan dari konsumsi pertalite di Jateng dan DIY karena selama ini jumlah outlet penyedia bahan bakar ini masih minim. Di sejumlah SPBU jumlahnya masih terlalu sedikit meskipun mereka sudah menyediakan.
Contohnya, jika SPBU menyediakan nozle (alat pengisi BBM) enam buah, tetapi nozle sekitar sebuah. Karena itu, mereka mulai akhir Juli menerapkan kebijakan menambah nozle pertalite di semua SPBU dan melarang penjualan jerigen.
Kebijakan ini terbukti mampu meningkatkan jumlah konsumsi pertalite di kawasan Jateng dan DIY. Dan kini sudah mulai bisa disejajarkan dengan daerah lain. Hingga hari ini, pihaknya mencatat sudah ada penurunan konsumsi premium.
Dia mencatat tingkat konsumsi premium sudah turun di level 53% dari total konsumsi bahan bakar secara keseluruhan di wilayah ini. Hal ini menunjukkan jika tingkat konsumsi BBK sudah mulai meningkat dibanding sebelumnya. "Kini kami sudah sedikit lega karena bisa sejajar dengan yang lain," akunya.
Hanya saja, pihaknya tidak bisa memaksa SPBU untuk secara keseluruhan menyediakan outlet pertalite. Karena terkadang ada kendala dari SPBU dalam menyediakan lahan tanki penyimpan di lokasi mereka.
Atas dasar itu, untuk mewujudkan 100% nozle atau pengisi BBK seperti pertalite adalah hal mustahil karena kendala yang menghambat tersebut. Dari 780 SPBU yang ada di Jawa Tengah dan DIY ini hanya sekitar 450 SPBU yang sudah menyediakan pertalite.
Pihaknya akan berusaha meningkatkan jumlah outlet penyedia pertalite ini. Namun, dia belum begitu berharap semua SPBU menjual seluruh produk yang diproduksi Pertamina. Karena produk yang diproduksi Pertamina sekitar 8 jenis. "Setiap lokasi SPBU tentu berbeda karakteristik konsumennya," ujarnya.
General Manager PT Pertamina Marketing Operational Region (MOR) IV, Kusnendar mengakui sementara ini penetrasi produk BBK di Jawa bagian tengah masih kalah dengan produk pertamina lain. Bahkan, jika dibanding Jawa Timur dan Jawa Barat Pertamina MOR IV di Lebaran kemarin penjualan premium masih sebesar 71% dari total penjualan bahan bakar di SPBU seluruh Jateng dan DIY.
Sementara, Jatim dan Jabar cukup bagus. "Jawa Timur sudah 41% sementara Jawa Barat 58%," tuturnya saat penyerahan bantuan kepada siswa SD Payungan, Bantul, Minggu (21/8/2016).
Menurutnya, salah satu hambatan dari konsumsi pertalite di Jateng dan DIY karena selama ini jumlah outlet penyedia bahan bakar ini masih minim. Di sejumlah SPBU jumlahnya masih terlalu sedikit meskipun mereka sudah menyediakan.
Contohnya, jika SPBU menyediakan nozle (alat pengisi BBM) enam buah, tetapi nozle sekitar sebuah. Karena itu, mereka mulai akhir Juli menerapkan kebijakan menambah nozle pertalite di semua SPBU dan melarang penjualan jerigen.
Kebijakan ini terbukti mampu meningkatkan jumlah konsumsi pertalite di kawasan Jateng dan DIY. Dan kini sudah mulai bisa disejajarkan dengan daerah lain. Hingga hari ini, pihaknya mencatat sudah ada penurunan konsumsi premium.
Dia mencatat tingkat konsumsi premium sudah turun di level 53% dari total konsumsi bahan bakar secara keseluruhan di wilayah ini. Hal ini menunjukkan jika tingkat konsumsi BBK sudah mulai meningkat dibanding sebelumnya. "Kini kami sudah sedikit lega karena bisa sejajar dengan yang lain," akunya.
Hanya saja, pihaknya tidak bisa memaksa SPBU untuk secara keseluruhan menyediakan outlet pertalite. Karena terkadang ada kendala dari SPBU dalam menyediakan lahan tanki penyimpan di lokasi mereka.
Atas dasar itu, untuk mewujudkan 100% nozle atau pengisi BBK seperti pertalite adalah hal mustahil karena kendala yang menghambat tersebut. Dari 780 SPBU yang ada di Jawa Tengah dan DIY ini hanya sekitar 450 SPBU yang sudah menyediakan pertalite.
Pihaknya akan berusaha meningkatkan jumlah outlet penyedia pertalite ini. Namun, dia belum begitu berharap semua SPBU menjual seluruh produk yang diproduksi Pertamina. Karena produk yang diproduksi Pertamina sekitar 8 jenis. "Setiap lokasi SPBU tentu berbeda karakteristik konsumennya," ujarnya.
(izz)
Lihat Juga :