Lonjakan Saham Apple Tak Mampu Selamatkan Wall Street

Kamis, 15 September 2016 - 08:51 WIB
Lonjakan Saham Apple...
Lonjakan Saham Apple Tak Mampu Selamatkan Wall Street
A A A
NEW YORK - Wall Street pada perdagangan kemarin waktu setempat berakhir lebih rendah ketika investor mulai cemas karena ketidakpastian kenaikan suku bunga AS atau Fed rate. Ditambah penurunan harga minyak mentah dunia menyeret saham energi, meskipun saham Apple melonjak ke level tertinggi sepanjang tahun ini.

Dilansir Reuters, Kamis (15/9/2016) spekulasi seputar kapan waktu kenaikan suku bunga acuan selanjutnya oleh The Fed telah menguncang indeks utama, ketika komentar pejabat Bank Sentral AS tidak juga membantu. Tercatat indeks S & P 500 hampir menyusut sebesar 3% di tengah harapan rendah The Fed akan menaikkan kembali suku bunga pada pertemuan 20-21 September, mendatang.

"Apa yang Anda lihat adalah sedikit preview untuk apa yang akan terjadi ketika Fed menaikkan suku bunga. Semua orang mulai membuat perubahan ke portofolio mereka," terang Kepala Investasi Cornerstone Financial Partners Chris Zaccarelli.

Pada perdagangan kemarin saham Apple (AAPL.O) meningkat 3,6% untuk menyentuh posisi tertinggi selama 2016 yang diprediksi tertopang penjualan seri terbaru iPhone. Sektor teknologi S & P 500 terdorong reli untuk menjadi sektor terkuat dengan tambahan 0,58%.

Sedangkan harga minyak mentah dunia jatuh 2%, setelah data penunjukkan peningkatan pasokan minyak AS untuk membuat indeks energi S & P turun 1,15%. Saham Exxon Mobil (XOM.N) juga tergelincir 0,72% untuk memberikan tekanan kepada S & P 500.

Setelah sempat mencetak keuntungan pada hari sebelumnya, Dow Jones industrial average (DJI) berakhir melemah 0,18% menjadi 18.034,77. Selain itu pelemahan juga terjadi pada indeks S & P 500 yang menyusut 0,06% menjadi 2.125,77. Di sisi lain Komposit Nasdaq bertambah 0,36% ke level 5.173,77.

Tercatat sekitar 7,0 miliar saham diperdagangkan pada pasar saham AS kemarin waktu setempat. Ini masih di atas rata-rata harian sebesar 6,5 miliar saham dalam 20 sesi berdasarkan data Thomson Reuters.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Sabet Dua Penghargaan,...
Sabet Dua Penghargaan, Great Eastern Life Bersinar di Ajang Insurance Asia Awards 2026
14 menit yang lalu
Aturan Baru Outsourcing...
Aturan Baru Outsourcing Masuk Tahap Finalisasi, Said Iqbal: Target Rampung Juli 2026
22 menit yang lalu
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
46 menit yang lalu
Rupiah Ambruk ke 18.128...
Rupiah Ambruk ke 18.128 per Dolar AS, Apa Pemicu Sebenarnya?
1 jam yang lalu
DSC Transformasi Jadi...
DSC Transformasi Jadi Ekosistem Wirausaha, Siapkan Hibah Rp2,5 Miliar
1 jam yang lalu
Indonesia Temukan Cadangan...
Indonesia Temukan Cadangan Emas Baru di Papua, Prabowo: Sangat Besar
1 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved