Tax Amnesty Kesempatan RI Saat Ekonomi Dunia Melemah
Kamis, 22 September 2016 - 13:30 WIB
Tax Amnesty Kesempatan RI Saat Ekonomi Dunia Melemah
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, program tax amensty atau pengampunan pajak bisa menjadi kesempatan Indonesia di tengah ekonomi dunia yang sedang melemah. Terutama, dalam menarik minat investasi dari luar negeri.
(Baca: Menkeu: Ekonomi Negara Berkembang Melambat Usai Krisis 2008)
Menurutnya, tax amnesty bisa menjadi alat untuk menarik uang warga negara Indonesia (WNI) yang terparkir di luar negeri. Selain itu, juga dapat meningkatkan penerimaan pajak untuk membangun infrastruktur.
"Dalam situasi kebijakan, kita membuat tax amnesty, ini kesempatan untuk menarik banyak uang ke Indonesia melalui repatriasi. Ini untuk membuat penerimaan pajak naik dan pembangunan infrastruktur," ujarnya di Jakarta, Kamis (22/9/2016).
Dia menerangkan, defisit anggaran pemerintah sangat ketat, maksimal sebesar 3% tiap tahunnya. Indonesia berusaha menggunakan ruang fiskal yang ada di saat secara bersamaan terjadi perlambatan ekonomi dunia dan kekurangan penerimaan pajak.
Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran saat ini yang 2,7% di luar perkiraan pemerintah. Sebab target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 sebesar 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). "Defisit dari penerimaan tidak setinggi dari yang kita perkirakan sebelumnya. Kami menggunakan kebijakan fiskal sebanyak mungkin untuk merangsang pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.
Baca Juga:
DJP Benarkan Para Pengusaha Ikut Tax Amnesty Pekan Depan
Sri Mulyani Yakin Bisa Amankan Indonesia dari Krisis Ekonomi
(Baca: Menkeu: Ekonomi Negara Berkembang Melambat Usai Krisis 2008)
Menurutnya, tax amnesty bisa menjadi alat untuk menarik uang warga negara Indonesia (WNI) yang terparkir di luar negeri. Selain itu, juga dapat meningkatkan penerimaan pajak untuk membangun infrastruktur.
"Dalam situasi kebijakan, kita membuat tax amnesty, ini kesempatan untuk menarik banyak uang ke Indonesia melalui repatriasi. Ini untuk membuat penerimaan pajak naik dan pembangunan infrastruktur," ujarnya di Jakarta, Kamis (22/9/2016).
Dia menerangkan, defisit anggaran pemerintah sangat ketat, maksimal sebesar 3% tiap tahunnya. Indonesia berusaha menggunakan ruang fiskal yang ada di saat secara bersamaan terjadi perlambatan ekonomi dunia dan kekurangan penerimaan pajak.
Sri Mulyani mengatakan, defisit anggaran saat ini yang 2,7% di luar perkiraan pemerintah. Sebab target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 sebesar 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). "Defisit dari penerimaan tidak setinggi dari yang kita perkirakan sebelumnya. Kami menggunakan kebijakan fiskal sebanyak mungkin untuk merangsang pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.
Baca Juga:
DJP Benarkan Para Pengusaha Ikut Tax Amnesty Pekan Depan
Sri Mulyani Yakin Bisa Amankan Indonesia dari Krisis Ekonomi
(izz)
Lihat Juga :