Chevron Kelabui Pemerintah Soal Cost Recovery

Kamis, 22 September 2016 - 16:44 WIB
Chevron Kelabui Pemerintah...
Chevron Kelabui Pemerintah Soal Cost Recovery
A A A
JAKARTA - Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan diminta oleh DPR RI untuk memperketat pengawasan dari penggantian biaya operasi kegiatan hulu minyak dan gas bumi (cost recovery). Pasalnya, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) selama ini kerap mengakali besaran anggaran cost recovery sehingga membuat negara kebobolan.

(Baca Juga: Cost Recovery Migas Berpotensi Membengkak dari APBNP)

Anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha mencontohkan, ongkos PT Chevron Pacific Indonesia yang dibebankan kepada cost recovery untuk mengevaluasi tanah yang terkontaminasi minyak di Dumai, Riau saja mencapai Rp12 triliun per tahun. Padahal, tanah tersebut selanjutnya dijual oleh Chevron kepada anak usaha dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

"Oleh pabrik semen itu dijadikan feed stock, bisa menjadi bahan bakar pengganti batu bara. Tetapi dia sekaligus bisa menjadi adukan dalam semen. Atau campuran daripada semen," katanya di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (22/9/2016).

(Baca Juga: Pangkas Cost Recovery, Luhut Ogah Dikadali Kontraktor Asing)

Tak hanya itu, Chevron juga memasukkan ongkos pengenalan teknologi barunya untuk menggenjot produksi minyak (surfaktan) dalam beban cost recovery. Padahal, saat mereka masuk ke Tanah Air seharusnya mereka telah memiliki teknologi yang akan diterapkan di Indonesia.

"Harusnya teknologi yang masuk itu yang proven. Pada waktu mereka mengenalkan surfaktan dalam konteks trial itu harusnya tidak boleh di recover costnya. Sampai nanti dia masuk menjadi satu peningkataan dalam produksi," imbuh dia.

Menurutnya, biaya-biaya tersebut seharusnya tidak perlu ditanggung oleh cost recovery. Sayangnya, pemerintah serta SKK Migas selama ini kurang cerdik dan terlalu manut dengan KKKS terkait cost recovery.

"Ini yang saya katakan pada SKK Migas untuk hati-hati, cerdik saja. Sebetulnya ini bisa kita cluster, untuk tidak dibayar. Tolong bisa tunjukan dulu meningkatkan produksi baru kita omong berapa yang harus diganti seperti pada PSC," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mengintip Penerapan...
Mengintip Penerapan Digitalisasi di Dalam Chevron Pacific Indonesia
SKK Migas Ungkap Fakta...
SKK Migas Ungkap Fakta Chevron Bukan Sengaja Mundur dari Blok Rokan
Kolaborasi Perusahaan...
Kolaborasi Perusahaan Migas dan Pemprov Ini, Mampu Menjaga Ketahanan Pangan
Tekan Penyebaran Covid-19,...
Tekan Penyebaran Covid-19, CPI Manfaatkan Solusi Digital
Chevron Mau Masuk Lagi...
Chevron Mau Masuk Lagi ke Indonesia, Incar Blok-blok Migas Raksasa
Bisnis Sempoyongan,...
Bisnis Sempoyongan, Chevron Pangkas Modal hingga Miliaran Dolar
Berita Terkini
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
7 menit yang lalu
PT Astra International...
PT Astra International Tbk: Dari Rumah Koran di Desa Sejahtera Astra Kanreapia Menjadi Sentra Sayuran di Sulawesi Selatan
34 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Majalengka dan Subang
54 menit yang lalu
Lepas dari Pertamina,...
Lepas dari Pertamina, Pelita Air Bakal Gabung di Bawah Garuda Indonesia
1 jam yang lalu
Ekonomi Restoratif Digagas...
Ekonomi Restoratif Digagas Jadi Jembatan Pembangunan Hijau Berkelanjutan
2 jam yang lalu
PGE Raih Fasilitas Pendanaan...
PGE Raih Fasilitas Pendanaan USD75 Juta Percepat Proyek Panas Bumi
2 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved