Penjualan Premium Turun, Kini Pertalite Jadi Primadona Baru
Kamis, 29 September 2016 - 13:12 WIB
Penjualan Premium Turun, Kini Pertalite Jadi Primadona Baru
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium terus mengalami penurunan. Kini, pertalite yang justru jadi primadona baru BBM untuk masyarakat.
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menyebutkan, pada Juli 2016 penjualan premium masih sekitar 64 ribu kiloliter (KL) per hari, Namun, pada Agustus hingga September 2016 penjualannya semakin terkikis menjadi 55 ribu KL pada Agustus 2016 dan 50 ribu KL pada September 2016.
(Baca: Harga BBM Premium Turun Rp300/Liter Mulai 1 Oktober, Solar Naik)
"Masyarakat punya preferensi tertentu untuk jenis BBM. Pada Juli premium penjualannya masih 64,6 ribu KL per hari, bahkan sebelumnya sampai 75 ribu KL per hari. Ini sebelum ada pilihan baru jenis BBM baru. Kemudian Agustus mulai turun 55,4 ribu KL, dan September 50,5 ribu KL per hari," terangnya saat berbincang dengan media di Jakarta, Kamis (29/9/2016).
Sementara, sambung mantan presenter berita ini, penjualan pertalite dan pertamax terus mengalami lonjakan tiap bulannya. Pada Agustus 2016, penjualan pertamax mencapai 14 ribu KL per hari dan September 2016 mencapai 15 ribu KL per hari.
"Pertalite luar biasa sekali (penjualannya). Juli itu 14,7 ribu KL, Agustus 19,2 ribu KL, dan September sudah luar biasa 25,2 ribu KL," imbuh dia.
Menurut Wianda, pihaknya juga banyak menerima permintaan dari berbagai kota di Indonesia agar pertalite dapat masuk ke wilayah mereka. Saat ini, pertalite sudah masuk di 4.341 SPBU di Indonesia, termasuk di Papua, Kalimantan, dan Gorontalo.
"Karena, kalau Pertamina ingin memberikan pilihan ke masyarakat, maka harus disediakan dengan cepat. Kalau enggak, itu bukan strategi marketing dengan baik. Sekarang sudah ada 4.341 SPBU yang ada pertalite-nya setelah sekitar satu tahun launching," tuturnya.
Tak hanya pertalite, tambah dia, lonjakan penjualan juga dialami solar jenis baru berlabel dexlite. Padahal, dexlite baru diluncurkan pada April 2016.
"Waktu awal agak tersendat, kita pikir masyarakat belum mau konsumsi dexlite. Pada Juli masih 230 ribu KL per hari, terus Agustus 486 ribu KL, dan September 620 ribu KL. Ini ada di 500-an SPBU," tandas Wianda.
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menyebutkan, pada Juli 2016 penjualan premium masih sekitar 64 ribu kiloliter (KL) per hari, Namun, pada Agustus hingga September 2016 penjualannya semakin terkikis menjadi 55 ribu KL pada Agustus 2016 dan 50 ribu KL pada September 2016.
(Baca: Harga BBM Premium Turun Rp300/Liter Mulai 1 Oktober, Solar Naik)
"Masyarakat punya preferensi tertentu untuk jenis BBM. Pada Juli premium penjualannya masih 64,6 ribu KL per hari, bahkan sebelumnya sampai 75 ribu KL per hari. Ini sebelum ada pilihan baru jenis BBM baru. Kemudian Agustus mulai turun 55,4 ribu KL, dan September 50,5 ribu KL per hari," terangnya saat berbincang dengan media di Jakarta, Kamis (29/9/2016).
Sementara, sambung mantan presenter berita ini, penjualan pertalite dan pertamax terus mengalami lonjakan tiap bulannya. Pada Agustus 2016, penjualan pertamax mencapai 14 ribu KL per hari dan September 2016 mencapai 15 ribu KL per hari.
"Pertalite luar biasa sekali (penjualannya). Juli itu 14,7 ribu KL, Agustus 19,2 ribu KL, dan September sudah luar biasa 25,2 ribu KL," imbuh dia.
Menurut Wianda, pihaknya juga banyak menerima permintaan dari berbagai kota di Indonesia agar pertalite dapat masuk ke wilayah mereka. Saat ini, pertalite sudah masuk di 4.341 SPBU di Indonesia, termasuk di Papua, Kalimantan, dan Gorontalo.
"Karena, kalau Pertamina ingin memberikan pilihan ke masyarakat, maka harus disediakan dengan cepat. Kalau enggak, itu bukan strategi marketing dengan baik. Sekarang sudah ada 4.341 SPBU yang ada pertalite-nya setelah sekitar satu tahun launching," tuturnya.
Tak hanya pertalite, tambah dia, lonjakan penjualan juga dialami solar jenis baru berlabel dexlite. Padahal, dexlite baru diluncurkan pada April 2016.
"Waktu awal agak tersendat, kita pikir masyarakat belum mau konsumsi dexlite. Pada Juli masih 230 ribu KL per hari, terus Agustus 486 ribu KL, dan September 620 ribu KL. Ini ada di 500-an SPBU," tandas Wianda.
(izz)
Lihat Juga :