Tiru Skema Gas Industri Malaysia, Penerimaan RI Terancam Tergerus

Senin, 24 Oktober 2016 - 12:04 WIB
Tiru Skema Gas Industri...
Tiru Skema Gas Industri Malaysia, Penerimaan RI Terancam Tergerus
A A A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan, penerimaan negara bakal turun hingga USD544 juta per tahun, jika pemerintah meniru skema penetapan harga gas industri di Malaysia. Pasalnya, selama ini Malaysia memberikan subsidi terhadap penjualan harga gas industri.

(Baca Juga: Penyebab Harga Gas Industri Malaysia Lebih Murah dari Indonesia)

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I GN Wiratmaja Puja mengatakan, selama ini Negeri Jiran -julukan Malaysia- tersebut memberikan insentif kepada kontraktor gas di hulu dengan tidak mengambil porsi bagi hasil pemerintah atau di Indonesia dikenal dengan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) nya. Sehingga, harga gas industri di negera tetangga itu bisa jauh lebih rendah dari Indonesia.

"Malaysia lebih rendah (harga gas industrinya) karena tidak ada share untuk negara. Jadi dia menggunakan sistem subsidi," katanya di Gedung Ditjen Migas, Jakarta, Senin (24/10/2016).

(Baca Juga: Jokowi Minta Harga Gas Industri Turun Jadi USD6/MMBTU)

Labih lanjut dia membeberkan, jika dilihat struktur gas secara umum di Indonesia maka harga gas di hulu bisa mencapai USD5 miliar per MMBTu jika PNBP tidak diambil. Sementara, jika pemerintah lebih ekstrem lagi dengan tidak mewajibkan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk menyetor pajak penghasilan (PPh), maka harga gas nasional bisa di kisaran USD3,8 per MMBTu.

"Secara umum, kalau PNBP tidak diambil maka harga gas akan sekitar USD5 per MMBTu. Kalau pajak dan PNBP enggak diambil sama sekali maka harga gas rata-rata USD3,8 per MMBTu di hulu," imbuh dia.

Namun dia menambahkan, pemerintah juga masih harus memperhitungkan alternatif yang bisa dilakukan untuk menurunkan harga gas industri. Karena, jika PNBP tidak diambil maka negara bisa rugi sekitar USD544 juta per tahun.

"Kalau pajak dan PNBP enggak diambil sama sekali maka penerimaan negara akan berkurang USD1,26 miliar per tahun. Ini gas pipa di dalam negeri ya based on contract. Alternatif untuk menurunkan tentu perlu dibahas," tandasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Subsidi Gas Industri...
Subsidi Gas Industri Perlu Dikaji Ulang, Ini Alasannya
Blok Masela Jadi Solusi,...
Blok Masela Jadi Solusi, Purbaya Dorong Gas Murah buat Industri
Pemerintah Didorong...
Pemerintah Didorong Evaluasi Harga Gas Bumi
Waduh, Harga Gas Murah...
Waduh, Harga Gas Murah Belum Dinikmati Industri Oleokimia
Kenaikan Harga Gas Industri...
Kenaikan Harga Gas Industri Picu Gelombang PHK, Mensesneg: Satu-Dua Hari Akan Ambil Keputusan
Harga Gas Diatur, Pengamat:...
Harga Gas Diatur, Pengamat: Pembangunan Infrastruktur Gas Bumi Makin Sulit
Berita Terkini
Purbaya Minta DJPb Monitor...
Purbaya Minta DJPb Monitor 3 Program Prioritas Termasuk MBG
16 menit yang lalu
IHSG Ditutup Meroket...
IHSG Ditutup Meroket 2,28% Sentuh Level 5.875, Ada 520 Saham Menghijau
1 jam yang lalu
Kantongi Restu OJK,...
Kantongi Restu OJK, Dua Pemegang Saham Utama CASH Siap Kawal Rights Issue Rp237,2 Miliar
1 jam yang lalu
Purbaya Tepis Kabar...
Purbaya Tepis Kabar Disebut Incar Influencer dan Toko Online: Tegaskan Pajak Demi Keadilan
1 jam yang lalu
Aplikasi Strava Kena...
Aplikasi Strava Kena Pajak 11%, DJP: Hanya Untuk yang Berlangganan
2 jam yang lalu
Menuju Fungsional, Hutama...
Menuju Fungsional, Hutama Karya Catatkan Progres Signifikan Sekolah Rakyat DKI Jakarta dan Banten untuk Tahun Ajaran Baru
2 jam yang lalu
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved