Penyaluran Kredit Bank Danamon Turun 9%, Laba Bersih Naik
Rabu, 26 Oktober 2016 - 13:12 WIB
Penyaluran Kredit Bank Danamon Turun 9%, Laba Bersih Naik
A
A
A
JAKARTA - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatat penyaluran kredit secara keseluruhan turun 9% menjadi Rp121,6 triliun pada sembilan bulan pertama 2016 dari Rp133,6 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kredit pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) tumbuh 6% menjadi Rp23,8 triliun dari Rp22,6 triliun pada periode sama tahun lalu. Sedangkan portofolio kredit Wholesale Banking, yang terdiri dari kredit segmen komersial dan korporat serta marketable securities terkait trade finance, berada pada tingkat yang sama dibandingkan tahun lalu.
"Kredit kepada usaha mikro melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) tercatat sebesar Rp11,4 triliun atau turun 29% dari tahun lalu," kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (26/10/2016).
Menurut Vera, meski pertumbuhan kredit turun, namun perseroan mencatat likuiditas yang cukup di mana pada akhir September 2016, giro dan tabungan atau CASA turun 13% menjadi Rp45,6 triliun dari Rp52,6 triliun di tahun sebelumnya mengikuti inisiatif pelepasan sejumlah akun CASA berbiaya tinggi.
Kualitas giro dan tabungan membaik sejalan dengan strategi Danamon untuk fokus pada dana pihak ketiga yang lebih granular. Sedangkan deposito turun 8% menjadi Rp58,2 triliun. Rasio kredit terhadap total pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) berada pada posisi 91,7% dibandingkan 91,1% setahun sebelumnya.
"Loan to funding ratio Danamon masih di bawah batas yang ditetapkan Bank Indonesia. Meskipun likuiditas yang ketat pada sistem perbankan pada umumnya, Danamon menjaga tingkat LFR pada level yang ditargetkan," papar dia.
Rasio kecukupan modal Danamon (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasian berada pada posisi 21,5%, sementara CAR bank only berada pada 22,8%.
Meski demikian, perusahaan mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp2,5 triliun untuk sembilan bulan pertama 2016. Angka tersebut tumbuh 33% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp1,8 triliun.
Chief Financial Officer dan Direktur Danamon Vera Eve Lim mengatakan, perseroan juga berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan nonbunga atau fee-based income sebesar 9% sebagai kontributor laba bersih dalam sembilan bulan pertama 2016.
"Pertumbuhan pada fee-based income merupakan hasil dari meningkatnya upaya Danamon dalam menghadirkan nilai tambah pada produk dan layanannya," ujarnya.
Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) juga tumbuh 13% menjadi Rp6,8 triliun pada sembilan bulan pertama 2016 dibanding setahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) di sembilan bulan pertama tahun ini tercatat sebesar 49,1% dibanding 53,7% di periode sama 2015.
Hal ini didorong oleh peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Biaya operasional turun 6% dibanding satu tahun sebelumnya menjadi Rp6,5 triliun.
Kredit pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) tumbuh 6% menjadi Rp23,8 triliun dari Rp22,6 triliun pada periode sama tahun lalu. Sedangkan portofolio kredit Wholesale Banking, yang terdiri dari kredit segmen komersial dan korporat serta marketable securities terkait trade finance, berada pada tingkat yang sama dibandingkan tahun lalu.
"Kredit kepada usaha mikro melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) tercatat sebesar Rp11,4 triliun atau turun 29% dari tahun lalu," kata dia dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (26/10/2016).
Menurut Vera, meski pertumbuhan kredit turun, namun perseroan mencatat likuiditas yang cukup di mana pada akhir September 2016, giro dan tabungan atau CASA turun 13% menjadi Rp45,6 triliun dari Rp52,6 triliun di tahun sebelumnya mengikuti inisiatif pelepasan sejumlah akun CASA berbiaya tinggi.
Kualitas giro dan tabungan membaik sejalan dengan strategi Danamon untuk fokus pada dana pihak ketiga yang lebih granular. Sedangkan deposito turun 8% menjadi Rp58,2 triliun. Rasio kredit terhadap total pendanaan atau loan to funding ratio (LFR) berada pada posisi 91,7% dibandingkan 91,1% setahun sebelumnya.
"Loan to funding ratio Danamon masih di bawah batas yang ditetapkan Bank Indonesia. Meskipun likuiditas yang ketat pada sistem perbankan pada umumnya, Danamon menjaga tingkat LFR pada level yang ditargetkan," papar dia.
Rasio kecukupan modal Danamon (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasian berada pada posisi 21,5%, sementara CAR bank only berada pada 22,8%.
Meski demikian, perusahaan mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp2,5 triliun untuk sembilan bulan pertama 2016. Angka tersebut tumbuh 33% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp1,8 triliun.
Chief Financial Officer dan Direktur Danamon Vera Eve Lim mengatakan, perseroan juga berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan nonbunga atau fee-based income sebesar 9% sebagai kontributor laba bersih dalam sembilan bulan pertama 2016.
"Pertumbuhan pada fee-based income merupakan hasil dari meningkatnya upaya Danamon dalam menghadirkan nilai tambah pada produk dan layanannya," ujarnya.
Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) juga tumbuh 13% menjadi Rp6,8 triliun pada sembilan bulan pertama 2016 dibanding setahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) di sembilan bulan pertama tahun ini tercatat sebesar 49,1% dibanding 53,7% di periode sama 2015.
Hal ini didorong oleh peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Biaya operasional turun 6% dibanding satu tahun sebelumnya menjadi Rp6,5 triliun.
(izz)
Lihat Juga :