Lima Tantangan Ekonomi Presiden AS Donald Trump

Rabu, 09 November 2016 - 19:32 WIB
Lima Tantangan Ekonomi...
Lima Tantangan Ekonomi Presiden AS Donald Trump
A A A
NEW YORK - Donald Trump akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 setelah menyelesaikan persaingan politik paling dramatis dalam sejarah modern negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut. Dari sisi ekonomi, pengusaha nyentrik itu memiliki beberapa tantangan ke depannya yang harus mampu dijawab di tengah perekonomian global yang pasang surut.

Saat masa kampanye, Trump terbilang mempunyai visi ekonomi yang lebih baik ketimbang saingannya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton meski banyak menemui banyak kecaman. Salah satunya Trump berupa memangkas regulasi dan menegaskan akan mendorong sektor energi AS untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang luas.

Sementara dari sisi pajak, Trump bakal mengurangi pajak penghasilan terutama untuk kelas menengah di Amerika Serikat yang dinilai akan menambah jutaan pekerjaan baru. Serta menyarankan keringanan pajak kepada pengusaha untuk menarik investor masuk, meski Trump menolak perjanjiaan NAFTA. Di sisi lain ada lima pertanyaan ekonomi yang harus mampu dituntaskan Trump.

Mampukah Trump menstabilkan pasar keuangan?

Seperti dilansir BBC, Rabu (9/11/2016) menyatakan pertanyaan ini mungkin tampak tidak adil mengingat bahwa Presiden Trump baru akan resmi menduduki kursi Presiden AS pada 20 Januari 2017, mendatang dan 10 minggu adalah waktu yang sangat lama untuk pasar keuangan. Terlebih lagi tanpa menutup fakta bahwa pasar keuangan lebih condong menginginkan kemenangan Clinton hingga penghitungan suara ditutup.

Hasilnya kemenangan Donald Trump yang akan menjadi pemimpin di Gedung Putih, lantas mengguncang pasar saham global. Kekhawatiran diyakini melanda investor, namun hal ini dinilai bersifat sementara sebelum mengetahui kebijakan ekonomi secara resmi.

Keputusan Trump terkait kerja sama perdagangan?


Saat kampanye Presiden sebelumnya kritikan tajam menyerang Trump terkait rencananya dalam transaksi perdagangan AS, terutama penolakan terhadap perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara yakni North American Free Trade Agreement (NAFTA). Sebelumnya perdagangan bebas itu memungkinkan negara tetangga seperti Meksiko dan Kanada mendapatkan bebas tarif.

Terkait hal itu Trump berjanji tidak akan memperpanjang kesepakatan, lantaran dinilai justru merugikan AS. Meski begitu keputusan ini tampaknya bakal mempunyai konsekuensi bagi kerangka hubungan dagang AS dan ekonomi global.

Rencana terhadap Bank Sentral AS alias The Fed?

Salah satu rencana ekonomi Trump lainnya yang menjadi sorotan untuk sistem keuangan global adalah seputar kewenangan Fed. Dia mengatakan akan mengubah independen The fed dalam melaksanakan kebijakan moneter di luar kendali politisi terpilih.

Bagaimana Trump akan meningkatkan pertumbuhan AS?

Masalah yang harus diselesaikan adalah seputar lowongan pekerjaan dan mengembalikan perekonomian AS yang diyakini masih berada dalam momen pemulihan. Diyakini Trump akan mengubah semua kebijakan Presiden Obama yang telah memimpin ekspansi ekonomi. Trump berencana akan memotong pajak cukup dalam terutama kepada orang kaya.

Belum diketahui apakah rencana ini akan membuka potensi ekonomi AS ke pertumbuhan yang lebih besar. Lebih lanjut dia akan menaikkan pajak impor dari China dan Meksiko, selain menurunkan pajak dalam negeri. Mengurangi pajak bagi pekerja kelas menengah, menerapkan rate pajak yang kompetitif terhadap pebisnis agar tetap bertahan di AS.

Bagaimana Dia akan bekerja bersama Kongres?

Guna melakukan kebijakan seperti memotong pajak atau perubahan terkait hubungan Fed dengan pemerintah, serta menulis ulang transaksi dalam kerja sama perdagangan, semua Presiden harus mampu bekerja dama dengan kongres. Meskipun saat ini Partai Republik memegang kursi kepresidenan, namun dewan dan senat harus mampu disatukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Klaim Pengangguran AS...
Klaim Pengangguran AS Ditaksir Capai 20 Juta Orang Imbas Corona
Ekonomi AS Diperkirakan...
Ekonomi AS Diperkirakan Mulai Pulih di Paruh Kedua 2020
Tujuh Kebijakan Ekonomi...
Tujuh Kebijakan Ekonomi yang Akan Diambil Joe Biden
Ekonomi AS Panas Dingin...
Ekonomi AS Panas Dingin Diterpa Panasnya Suasana Pemilihan Presiden
Wall Street Ditutup...
Wall Street Ditutup Jatuh Terseret Pelemahan Saham Keuangan
Aliran Modal Keluar...
Aliran Modal Keluar Terbesar dalam 40 Tahun, Bank-bank AS Kehilangan Rp7.003 Triliun
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
3 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
4 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
5 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
7 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
7 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
7 jam yang lalu
Infografis
Chronic Venous Insufficiency,...
Chronic Venous Insufficiency, Penyakit yang Diderita Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved