Daftar Negatif Investasi Disebut Bakal Jadi Bom Waktu

Kamis, 15 Desember 2016 - 03:09 WIB
Daftar Negatif Investasi...
Daftar Negatif Investasi Disebut Bakal Jadi Bom Waktu
A A A
JAKARTA - Paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah sebanyak 14 kali dinilai belum terasa efektif untuk mendorong perekonomian Indonesia. Bahkan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPR menilai paket yang berisi kelonggaran kepemilikan usaha yang dimiliki investor asing (Daftar Negatif Investasi/DNI) bisa menjadi 'bom waktu'.

(Baca Juga: Kualitas Pertumbuhan Ekonomi RI Dapat Nilai Rendah)

Baik bagi tenaga kerja di Indonesia maupun bagi perekonomian nasional yang diamanatkan konstitusi harus dikuasai negara dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ketua Fraksi PKS di DPR Jazuli Juwaini menegaskan seharusnya pemerintah mengutamakan investor dan tenaga kerja dari dalam negeri.

"14 paket kebijakan ekonomi yang sudah dikeluarkan pemerintah nyatanya juga belum efektif mendorong perekonomian ke arah yang lebih baik, salah satunya terkait implementasi paket-paket tersebut di daerah sejalan dengan kondisi daerah. Sebagai negara besar, kita patut dan wajib mengutamakan investor dan tenaga kerja dalam negeri, sehingga mereka menjadi tuan di negeri sendiri," ungkapnya saat ‎refleksi akhir tahun dan outlook ekonomi-bisnis 2017 Fraksi PKS di Jakarta.

Dia menerangkan acara ini diselenggarakan dalam rangka masukan perbaikan bagi para pengambil kebijakan ekonomi agar tahun 2017 kondisi ekonomi makin meningkat baik kuantitas angka-angka pertumbuhannya maupun yang lebih penting lagi meningkat kualitasnya. ‎Fraksi PKS, kata dia, menghargai kerja keras pemerintah, dalam kondisi ekonomi dunia yang kurang baik masih bisa menjaga pertumbuhan di angka 5%.

"Meski kita juga tidak menutup mata secara kualitas mengalami penurunan dan masih jauh dari pemenuhan target pertumbuhan 7% selama lima tahun sampai 2019, seperti janji Jokowi-JK," sambungnya.

Lanjut dia menerangkan seperti diketahui bersama bahwa sampai dengan Triwulan III-2016 pertumbuhan ekonomi nasional baru mencapai 5,02% dengan prediksi sampai akhir tahun mencapai 5,037%, masih di bawah target pertumbuhan yang dipatok 5,2% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016.

"Hal itu menandakan bahwa pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi nasional masih stagnan, dengan kata lain pemerintah belum bekerja secara efektif dalam mengawal perekonomian nasional," tuturnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kebijakan Investasi...
Kebijakan Investasi Jokowi Tingkatkan Geliat Ekonomi Masyarakat Daerah
Kawasan Ekonomi Khusus...
Kawasan Ekonomi Khusus sebagai Katalis Ekonomi Nasional
Soal Kebijakan Investasi...
Soal Kebijakan Investasi RI, Hary Tanoesoedibjo Puji Menko Luhut
Menko Airlangga Beberkan...
Menko Airlangga Beberkan Arah Kebijakan Perekonomian Nasional
Keras! Ekonom Ini Sebut...
Keras! Ekonom Ini Sebut Kebijakan Ekonomi Pemerintah Bak 'Mengisi Ember Bocor
6 Kebijakan Baru di...
6 Kebijakan Baru di Tahun 2026: Dari Pajak, Pertanahan, hingga Transportasi
Berita Terkini
Dukung Industri Kreatif,...
Dukung Industri Kreatif, Joshua Khubani Siapkan Investasi USD100 Juta
1 jam yang lalu
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
1 jam yang lalu
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
1 jam yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
2 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
3 jam yang lalu
Infografis
Jadi Buah yang Disebut...
Jadi Buah yang Disebut Al Quran, Ini 3 Manfaat Delima
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved