Kelemahan Ekonomi Indonesia Selama Puluhan Tahun
Senin, 19 Desember 2016 - 15:01 WIB
Kelemahan Ekonomi Indonesia Selama Puluhan Tahun
A
A
A
JAKARTA - Ada kelemahan mendasar dalam ekonomi Indonesia yang terjadi selama puluhan tahun terakhir, yakni defisit transaksi berjalan. Angkanya bahkan bisa meledak ketika perekonomian bergerak sangat kencang.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, selalu ada kejadian over heating ketika pertumbuhan ekonomi melaju cepat. Pemerintah lalu mempelajari jalan keluar dari masalah yang berlarut ini.
"Sampai saat ini kita persiapkan ada satu hal kelemahan mendasar ekonomi kita puluhan tahun terjadi pertumbuhan ekonomi besar beberapa tahun selalu terjadi transaksi berjalan meledak defisitnya. Pada zaman Orde Baru disebut over heating, kepanasan mesinnya," ujar Darmin di Jakarta, Senin (19/12/2016).
Setelah dipelajari oleh pemerintah, Darmin menjelaskan, Indonesia tidak memiliki beberapa industri dasar beserta turunannya. Antara lain, pembangunan kilang baru.
"Setelah kita pelajari, kita enggak punya beberapa industri dasar dan turunannya. Pertama kilang dengan petrochemical-nya, coba periksa," katanya.
"Kedua, basic chemical, yang lain general chemical dan turunannya ke farmasi dan sebagainya apalagi sekarang ini keluarkan dana besar untuk jaminan kesehatan BPJS, aneh kalau kita tidak bisa kembangkan industri ini (kimia)," jelas Darmin.
Menurutnya, pemerintah telah mengeluarkan dana besar untuk kesehatan tapi farmasi tetap impor. Karena itu, jalur tersebut akan dikembangkan salah satunya dengan paket kebijakan ketika adanya relaksasi DNI, terbuka lebar bahan baku obat 100% boleh dari asing.
"Kenapa? Karena kita tahu investor kita bisa masuk di produksi hilir obat generik dan segala macam tapi enggak mampu masuk di bahan baku produksinya yang berabad-abad dikuasai Eropa. Negara yang bisa kembangkan ini India dan China, tapi yang terhebat China," tutur Darmin.
Mantan gubernur Bank Indonesia ini mengungkapkan, untuk mengatasi hal itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertolak langsung ke India untuk membicarakan investasi di bidang farmasi. Sehingga harga obat di Indonesia bisa lebih murah.
"Presiden ke India dan Iran, salah satu yang dibicarakan ke Indonesia, kita buka yang perlu masuk, kita bisa dorong harga obat lebih murah lagi. Sekarang generik murah kalau hulu input-nya investasi di Indonesia," pungkas Darmin.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, selalu ada kejadian over heating ketika pertumbuhan ekonomi melaju cepat. Pemerintah lalu mempelajari jalan keluar dari masalah yang berlarut ini.
"Sampai saat ini kita persiapkan ada satu hal kelemahan mendasar ekonomi kita puluhan tahun terjadi pertumbuhan ekonomi besar beberapa tahun selalu terjadi transaksi berjalan meledak defisitnya. Pada zaman Orde Baru disebut over heating, kepanasan mesinnya," ujar Darmin di Jakarta, Senin (19/12/2016).
Setelah dipelajari oleh pemerintah, Darmin menjelaskan, Indonesia tidak memiliki beberapa industri dasar beserta turunannya. Antara lain, pembangunan kilang baru.
"Setelah kita pelajari, kita enggak punya beberapa industri dasar dan turunannya. Pertama kilang dengan petrochemical-nya, coba periksa," katanya.
"Kedua, basic chemical, yang lain general chemical dan turunannya ke farmasi dan sebagainya apalagi sekarang ini keluarkan dana besar untuk jaminan kesehatan BPJS, aneh kalau kita tidak bisa kembangkan industri ini (kimia)," jelas Darmin.
Menurutnya, pemerintah telah mengeluarkan dana besar untuk kesehatan tapi farmasi tetap impor. Karena itu, jalur tersebut akan dikembangkan salah satunya dengan paket kebijakan ketika adanya relaksasi DNI, terbuka lebar bahan baku obat 100% boleh dari asing.
"Kenapa? Karena kita tahu investor kita bisa masuk di produksi hilir obat generik dan segala macam tapi enggak mampu masuk di bahan baku produksinya yang berabad-abad dikuasai Eropa. Negara yang bisa kembangkan ini India dan China, tapi yang terhebat China," tutur Darmin.
Mantan gubernur Bank Indonesia ini mengungkapkan, untuk mengatasi hal itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertolak langsung ke India untuk membicarakan investasi di bidang farmasi. Sehingga harga obat di Indonesia bisa lebih murah.
"Presiden ke India dan Iran, salah satu yang dibicarakan ke Indonesia, kita buka yang perlu masuk, kita bisa dorong harga obat lebih murah lagi. Sekarang generik murah kalau hulu input-nya investasi di Indonesia," pungkas Darmin.
(dmd)
Lihat Juga :