Rial Iran Ambruk ke 41.600 per Dolar AS

Selasa, 27 Desember 2016 - 21:32 WIB
Rial Iran Ambruk ke...
Rial Iran Ambruk ke 41.600 per Dolar AS
A A A
TEHERAN - Mata uang Republik Islam Iran, rial ambruk terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (27/12/2016). Melansir dari Associated Press, rial Iran berada di titik terendah, yaitu 41.600 rial per dolar AS. Sepuluh tahun yang lalu, rial Iran diperdagangkan di level sekitar 9.200 per dolar AS.

Namun kemudian datang sanksi internasional atas program nuklir Iran. Amerika Serikat melarang perbankan dunia untuk mengambil bagian dalam perekonomian Iran. Sedangkan Uni Eropa memberlakukan embargo minyak. Sanksi ini membuat perekonomian Negeri Mullah menjadi melemah. Alhasil rial Iran pun mengalami depresiasi hingga 450%.

Meski sanksi nuklir Iran telah dicabut pada 2015, namun mereka masih tertatih-tatih dalam membangun perekonomiannya. Karena itu, Iran begitu gencar meningkatkan produksi minyak mereka mengabaikan seruan OPEC yang membatasi produksi minyak, demi mendapatkan kembali pangsa pasar yang hilang.

Dan secara bersamaan, Iran mulai merajut hubungan dengan Barat, dengan menandatangani kesepakatan senilai puluhan miliar dolar untuk membeli pesawat Airbus (Eropa) dan Boeing dari Amerika Serikat.

Namun dengan jatuhnya rial ke titik terendah, akan membuat investasi di Iran semakin sulit dan tentunya berdampak besar terhadap masyarakat. “Tentunya ini (jatuhnya rial) berdampak negatif kepada kami. Banyak barang luar negeri yang diimpor ke negara kami menjadi lebih mahal,” ujar Babaei warga Teheran kepada AP. Dan menurutnya, rendahnya rial Iran memberi dampak psikologis yang buruk kepada rakyat Iran.

Sementara itu, Ahmad Heidari, seorang pensiunan berusia 64 tahun, mengatakan kejatuhan rial Iran merupakan hal tragis bagi dirinya. “Saya kehilangan 20 persen dari daya beli saya dengan kurs ini, karena semua harga mendadak naik,” keluhnya.

Dengan kejatuhan rial Iran, membuat Pemerintahan Hassan Rouhani tidak bisa berbuat banyak terhadap hasil ekspor minyak Iran. Adapun hasil dari pencabutan sanksi belum memberi perubahan bagi ekonomi mereka. Kondisi demikian membuat pemerintah menyerukan rakyat untuk melakukan penghematan.

Adapun beberapa penyebab terpuruknya nilai rial terhadap dolar AS, salah satunya kemenangan Donald Trump yang membuat dolar AS semakin menguat. Hal lainnya, kebijakan kampanye Trump yang akan menegosiasi kembali kesepakatan dengan Iran semakin memicu ketidakpastian ekonomi.

Faktor internal adalah kebijakan Pemerintah Iran di masa lalu, yang telah memanipulasi pasar mata uang untuk menutupi defisit anggaran pemerintah. Pemerintah Iran disinyalir menggunakan perbedaan tarif soal nilai tukar pasar yang lebih tinggi untuk mendapatkan rial dari penjualan minyak. Dalam dunia keuangan, pola ini dikenal arbitrase.

Arbitrase mata uang, yaitu kegiatan membeli dan menjual valuta asing secara simultan untuk meraih keuntungan dari perbedaan kurs mata uang internasional pada saat yang sama di tempat yang berbeda.

“Ada kemungkinan selama ini pemerintah memainkan arbitrase,” ujar Hassan Salimi, kepala investasi di Kamar Dagang Iran, seperti dilansir kantor berita Fars, Selasa (27/12/2016).

Salimi menambahkan harapan Iran memanfaatkan kenaikan harga minyak dengan menggenjot produksi, juga tidak menghasilkan hal banyak. Pasalnya harga minyak sepanjang tahun 2016, tidak beranjak dari USD50 per barel. “Untuk menebus defisit, maka pemerintah bermain di nilai tukar,” ujarnya.

Namun Juru Bicara Pemerintah, Mohammad Bagher Nobakht, mencoba meredakan kekhawatiran masyarakat atas ambruknya nilai tukar rial. “Pemerintah juga tidak puas soal nilai tukar rial,” katanya kepada kantor berita Iran, IRNA. Menurutnya, pemerintah bersama bank sentral akan memanfaatkan setiap instrumen dan logika ekonomi untuk merasionalkan nilai tukar rial.

Sementara itu, analis di Teheran, Saeed Leilaz berujar dengan nada satir soal kejatuhan rial. “Ini peluang bagi para pengusaha Iran. Produk mereka menjadi lebih kompetitif, ini bagus untuk Iran yang ingin mengekspor produk mereka ke pasar global”.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
5 Mata Uang Paling Banyak...
5 Mata Uang Paling Banyak Digunakan di Dunia, Nomor 1 Transaksi Hariannya Tembus Rp43.500 Triliun
8 Efek Mata Uang Baru...
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Deretan Negara Ini Tak...
Deretan Negara Ini Tak Mempunyai Mata Uang, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Mata Uang BRICS Bakal...
Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
7 Fakta Dolar Amerika...
7 Fakta Dolar Amerika Serikat, Mata Uang Internasional di Beberapa Negara
Berita Terkini
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
24 menit yang lalu
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
1 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
1 jam yang lalu
Teluk Kembali Memanas,...
Teluk Kembali Memanas, China Siaga Jaga Produksi BBM Tetap Tinggi
2 jam yang lalu
Jakarta Fair 2026 Diserbu...
Jakarta Fair 2026 Diserbu 6 Juta Pengunjung, Nilai Transaksi Cetak Rp8,2 Triliun
12 jam yang lalu
Laporan Menkop ke Prabowo:...
Laporan Menkop ke Prabowo: 15.845 Koperasi Merah Putih Sudah Berdiri, 19 Ribu Masih Dibangun
13 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved