Menko Darmin: Jumlah IPO 2016 Terendah Selama 7 Tahun
Jum'at, 30 Desember 2016 - 20:36 WIB
Menko Darmin: Jumlah IPO 2016 Terendah Selama 7 Tahun
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, jumlah pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2016 terendah selama tujuh tahun terakhir. Hingga tutup tahun, hanya ada 15 emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Kita harus berani baca berita soal tidak bagusnya adalah jumlah IPO. Catatan saya menunjukkan ada 15 emiten dan itu terendah selama tujuh tahun terakhir," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/12/2016).
Selain itu, Darmin menjelaskan, kualitas Good Corporate Governance (GCG) dari perusahaan terbuka di BEI juga masih tertinggal. Padahal itu yang menjadi tolak ukur integritas pasar modal Indonesia. "Kalau kita lihat kualitas GCG kita masih tertinggal. Itu segi yang menentukan integritas pasar modal kita," katanya.
Di sisi lain, mantan gubernur Bank Indonesia (BI) ini menyampaikan, kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15,32% pada penutupan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya merupakan pencapaian bagus. Terlebih kondisi perekonomian global yang penuh gejolak.
"Saya kira apa yang kita capai tahun ini dalam situasi ekonomi dunia yang penuh kejutan menciptakan kekhawatiran di belahan dunia. Apa yang kita capai kenaikan 15,32% patut kita banggakan," tutur Darmin. (Baca: Sepanjang 2016, IHSG Bullish 15,32%)
Menurutnya, pencapaian itu menjadikan indeks saham Indonesia tertinggi nomor dua di kawasan Asia Pasifik. Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air.
"Tadi sudah disampaikan capaian itu nomor dua di Asia Pasifik dan nomor satu di emerging country. Surat utang sudah tembus Rp113 triliun kapitalisasinya. Bahkan SUN Rp470 triliun, itu menunjukkan bahwa pasar modal kita, bursa efek kita tak hanya dukung pembiayaan korporat perusahaan tapi pemerintah negara. Tentu itu berita bagusnya" pungkasnya.
"Kita harus berani baca berita soal tidak bagusnya adalah jumlah IPO. Catatan saya menunjukkan ada 15 emiten dan itu terendah selama tujuh tahun terakhir," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (30/12/2016).
Selain itu, Darmin menjelaskan, kualitas Good Corporate Governance (GCG) dari perusahaan terbuka di BEI juga masih tertinggal. Padahal itu yang menjadi tolak ukur integritas pasar modal Indonesia. "Kalau kita lihat kualitas GCG kita masih tertinggal. Itu segi yang menentukan integritas pasar modal kita," katanya.
Di sisi lain, mantan gubernur Bank Indonesia (BI) ini menyampaikan, kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15,32% pada penutupan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya merupakan pencapaian bagus. Terlebih kondisi perekonomian global yang penuh gejolak.
"Saya kira apa yang kita capai tahun ini dalam situasi ekonomi dunia yang penuh kejutan menciptakan kekhawatiran di belahan dunia. Apa yang kita capai kenaikan 15,32% patut kita banggakan," tutur Darmin. (Baca: Sepanjang 2016, IHSG Bullish 15,32%)
Menurutnya, pencapaian itu menjadikan indeks saham Indonesia tertinggi nomor dua di kawasan Asia Pasifik. Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air.
"Tadi sudah disampaikan capaian itu nomor dua di Asia Pasifik dan nomor satu di emerging country. Surat utang sudah tembus Rp113 triliun kapitalisasinya. Bahkan SUN Rp470 triliun, itu menunjukkan bahwa pasar modal kita, bursa efek kita tak hanya dukung pembiayaan korporat perusahaan tapi pemerintah negara. Tentu itu berita bagusnya" pungkasnya.
(ven)
Lihat Juga :