AS Hengkang, Tim Ahli Wapres Sebut RI Tak Perlu Lagi Masuk TPP
Senin, 23 Januari 2017 - 15:12 WIB
AS Hengkang, Tim Ahli Wapres Sebut RI Tak Perlu Lagi Masuk TPP
A
A
A
JAKARTA - Ketua Tim Ahli Wakil Presiden (Wapres) RI Sofjan Wanandi menilai, Indonesia tidak perlu lagi melakukan kajian untuk bergabung dalam Trans Pacific Partnership (TPP). Pasalnya, keputusan Amerika Serikat (AS) untuk hengkang dari perjanjian tersebut membuat TPP kurang berarti lagi.
(Baca Juga: AS Resmi Keluar dari Perjanjian Dagang TPP)
Seperti diketahui Presiden AS Donald Trump akhir pekan kemarin telah memutuskan untuk keluar dari perjanjian dagang TPP. Langkah ini diambil sebagai upaya demi menjaga dan melindungi tenaga kerja yang dimiliki Negeri Paman Sam -julukan AS- tersebut.
"Saya kira, (Indonesia) tidak perlu sekali (masuk TPP). AS tidak masuk TPP, sudah tidak ada gunanya lagi," katanya dalam sebuah acara bertajuk SAR, Radikalisme, dan Prospek Ekonomi 2017 di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Senin (23/1/2017).
Menurutnya, meskipun tidak masuk TPP, namun Indonesia‎ masih bisa memanfaatkan kerja sama bilateral lainnya. Sikap proteksionisme Trump, tambahnya, juga tidak akan langsung berdampak signifikan terhadap Indonesia.
"Masih ada RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), dan (kerja sama) bilateral lain kita bisa kerja sama. Juga masih ada APEC dan lain-lain," papar dia.
Pada awal tahun kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengungkapkan Indonesia mau tidak mau harus bergabung dalam blog perdagangan di antara TPP ataupun free trade agreement (FTA). Dia mengatakan, hal ini lantaran Indonesia sudah masuk era persaingan dan keterbukaan.
Menurut Jokowi, jika Indonesia tidak masuk dalam perjanjian lintas negara tersebut maka produk dari Indonesia akan dikenakan pajak tinggi sekitar 15%-20% untuk masuk ke negara-negara anggota blok tersebut.
"Perlu saya sampaikan, mau tidak mau kita harus masuk (TPP). Hanya kapannya saja, entah besok, bulan depan atau tahun depan. Begitu kita enggak masuk blok perdagangan itu, produksi dari sini dikenakan pajak 15% atau 20%. Mau apa kita? Pasti kalah bersaing," ungkap Presiden Jokowi.
(Baca Juga: AS Resmi Keluar dari Perjanjian Dagang TPP)
Seperti diketahui Presiden AS Donald Trump akhir pekan kemarin telah memutuskan untuk keluar dari perjanjian dagang TPP. Langkah ini diambil sebagai upaya demi menjaga dan melindungi tenaga kerja yang dimiliki Negeri Paman Sam -julukan AS- tersebut.
"Saya kira, (Indonesia) tidak perlu sekali (masuk TPP). AS tidak masuk TPP, sudah tidak ada gunanya lagi," katanya dalam sebuah acara bertajuk SAR, Radikalisme, dan Prospek Ekonomi 2017 di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Senin (23/1/2017).
Menurutnya, meskipun tidak masuk TPP, namun Indonesia‎ masih bisa memanfaatkan kerja sama bilateral lainnya. Sikap proteksionisme Trump, tambahnya, juga tidak akan langsung berdampak signifikan terhadap Indonesia.
"Masih ada RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), dan (kerja sama) bilateral lain kita bisa kerja sama. Juga masih ada APEC dan lain-lain," papar dia.
Pada awal tahun kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengungkapkan Indonesia mau tidak mau harus bergabung dalam blog perdagangan di antara TPP ataupun free trade agreement (FTA). Dia mengatakan, hal ini lantaran Indonesia sudah masuk era persaingan dan keterbukaan.
Menurut Jokowi, jika Indonesia tidak masuk dalam perjanjian lintas negara tersebut maka produk dari Indonesia akan dikenakan pajak tinggi sekitar 15%-20% untuk masuk ke negara-negara anggota blok tersebut.
"Perlu saya sampaikan, mau tidak mau kita harus masuk (TPP). Hanya kapannya saja, entah besok, bulan depan atau tahun depan. Begitu kita enggak masuk blok perdagangan itu, produksi dari sini dikenakan pajak 15% atau 20%. Mau apa kita? Pasti kalah bersaing," ungkap Presiden Jokowi.
(akr)
Lihat Juga :